Transformasi digital yang berlangsung pesat di berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan, menuntut tenaga pendidik untuk mampu beradaptasi dan mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus, terutama bagi tenaga pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghadapi tekanan ganda antara kebutuhan modernisasi dan kewajiban menjaga nilai-nilai keislaman. Artikel ini bertujuan mengkaji secara mendalam ambivalensi yang terjadi dalam profil kompetensi tenaga pendidik PAI di era digital, mencakup kesenjangan antara profil ideal dan realitas lapangan, tantangan identitas profesional, serta dinamika peran dalam pembentukan karakter murid. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan menganalisis berbagai kajian empiris, kebijakan pendidikan, dan kerangka teori yang relevan, seperti TPACK dan kompetensi abad 21. Hasil kajian menunjukkan bahwa ambivalensi tenaga pendidik PAI bukan semata persoalan kecakapan teknis, melainkan merupakan perpaduan kompleks antara keterbatasan literasi digital, ketegangan identitas profesional berbasis nilai Islam, resistensi epistemologis, ketimpangan infrastruktur, dan ancaman pergeseran otoritas keilmuan di era algoritmik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan pendekatan transformatif yang tidak hanya meningkatkan kompetensi digital, tetapi juga memperkuat identitas keislaman tenaga pendidik PAI sebagai fondasi autentik pendidikan agama yang bermakna dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026