Masa perkuliahan tingkat akhir adalah fase transisi yang kritis di mana mahasiswa menghadapi tekanan akademik terutama dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi). Dalam situasi ini, mahasiswa tidak hanya terbebani oleh tuntutan akademis tetapi juga rentan mengalami krisis eksistensial, krisis iman, dan penurunan kualitas kesejahteraan spiritual. Dengan pendekatan kualitatif-interpretatif dengan desain studi kasus yang dilakukan pada dua (PTKIS) di Kota Depok yaitu Universitas Islam Depok dan Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi. Data dikumpulkan melalui tiga teknik: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sebanyak 12 informan dipilih secara purposive sampling dari mahasiswa tingkat akhir semester 8-14 yang sedang menyelesaikan skripsi (8 dari UID dan 4 dari STAIMI). Data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan software NVivo 12. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Spiritual Well-Being mahasiswa tingkat akhir Prodi Pendidikan Agama Islam termanifestasi dalam lima aspek utama: pengelolaan diri, relasi sosial, nilai-nilai sosial, lingkungan, dan praktik ibadah. Dan dalam memaknai Spiritual Well-Being maka perlu mengetahui aspek stres akademik sebagai sumber kekuatan batin yang membantu mereka menemukan makna hidup, menjaga konsistensi ibadah, dan mempertahankan hubungan transendental dengan Allah SWT melalui sikap tawakkal, muhasabah, syukur, dan do’a. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa spiritual well-being bukan hanya indikator religiusitas tetapi juga kemampuan yang mendukung ketahanan psikologis, makna hidup, dan motivasi akademis mahasiswa di tengah tekanan perkuliahan tingkat akhir melalui spiritual coping.
Copyrights © 2026