Penelitian ini membahas fenomena hibriditas fashion Muslimah Indonesia dalam tren #MakeABayaGreatAgain melalui perspektif postkolonialisme. Perkembangan media sosial dan budaya digital telah mengubah fashion Muslimah tidak hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai representasi identitas, gaya hidup, dan budaya populer perempuan Muslim modern. Tren penggunaan abaya yang sebelumnya identik dengan budaya Timur Tengah kini mengalami transformasi makna melalui perpaduan dengan unsur fashion global dan budaya lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk hibriditas budaya dalam tren #MakeABayaGreatAgain serta memahami bagaimana identitas perempuan Muslim modern dikonstruksi melalui media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui observasi digital pada platform Instagram, dokumentasi unggahan media sosial, serta studi pustaka terkait fashion Muslimah, budaya digital, dan postkolonialisme. Analisis penelitian menggunakan konsep hibriditas budaya dari Homi K. Bhabha untuk melihat proses negosiasi identitas yang terjadi dalam fashion Muslimah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren #MakeABayaGreatAgain merepresentasikan percampuran budaya Arab, budaya lokal Indonesia, dan budaya populer global yang menghasilkan identitas baru perempuan Muslim modern. Media sosial berperan sebagai ruang produksi budaya yang membentuk standar estetika Muslimah kontemporer melalui visual fashion yang modern, minimalis, dan estetik. Selain itu, fenomena ini juga memunculkan pro dan kontra terkait makna religiusitas dan komodifikasi fashion Muslimah dalam budaya digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fashion Muslimah digital bukan sekadar tren berpakaian, tetapi menjadi arena negosiasi identitas budaya perempuan Muslim Indonesia dalam masyarakat postkolonial kontemporer.
Copyrights © 2026