Budaya riset dikalangan Guru Madrasah Ibtidaiyah masih timpang, sementara tuntutan publikasi ilmiyah dan profesionalisme guru kian mendesak dari waktu ke waktu. Kegelisahan inilah yang membawa kami ke MI Ma’arif NU Banteran Sumbang, Banyumas, untuk menelusuri bagaimana kepala madrasah mengelola dan mengonstruksi ekosistem riset di tengah keterbatasan infrastruktur kelembagaan. Studi ini menggunakan desain studi kasus kualitatif instrumental, dengan data lapangan dijaring lewat observasi partisipatif dan wawancara mendalam bersama kepala madrasah, dewan guru, pengurus komite, serta akademisi dari kampus mitra, dilengkapi telaah dokumen internal. Melalui analisis tematik interaktif, penelitian ini mengonfirmasi tiga dinamika krusial. Habitus riset di kalangan guru tidak tumbuh di ruang hampa; ia bermula dari ketukan kepemimpinan transformasional yang bertindak sebagai pemantik utama. Lewat komunitas praktik inilah, iklim tersebut akhirnya menemukan ruang tumbuh yang subur. Wadahnya sengaja dibuat kasual agar proses transfer pengetahuan antarstaf bisa mengalir begitu saja secara natural, sekaligus meruntuhkan sekat-sekat birokrasi yang biasanya kaku. Di sisi lain, ekosistem riset ini semakin kokoh berkat jaringan sosial eksternal yang terjalin erat. Jaringan inilah yang memayungi tata kelola dana riset hingga mencapai 173 juta rupiah—sebuah sokongan finansial kolektif yang dihimpun dari dana BOS, iuran sukarela wali murid, Ranting NU, kas masjid lokal, hingga donor internasional asal Jerman. Walhasil, studi ini menegaskan bahwa manajemen pendidikan Islam tingkat dasar di akar rumput tidak bersifat kaku, melainkan sebuah proses sosial yang dinamis. Keberhasilannya bertumpu pada kelihaian menegosiasikan makna dan mengelola modal kelembagaan, sebuah temuan yang memberi arah baru bagi tata kelola SDM serta finansial di lingkungan madrasah.
Copyrights © 2026