Pasangan usia subur merupakan kelompok kunci dalam keberhasilan program Keluarga Berencana. Pada tahun 2024, sekitar 7 dari 10 penduduk Indonesia merupakan usia produktif. Keterbatasan data mutakhir mengenai profil usia reproduktif sering kali menjadi hambatan dalam perencanaan kegiatan promosi dan pencegahan, baik bagi layanan kesehatan maupun pemerintah desa. Kegiatan ini dilaksanakan oleh kader di Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, melibatkan 16 pasangan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pengumpulan data sebagai dasar perencanaan program keluarga. Metode yang digunakan adalah survei lapangan yang mencakup identitas, usia, jumlah anak, partisipasi dalam Keluarga Berencana, jenis kontrasepsi, serta keinginan memiliki anak. Hasil menunjukkan variasi penggunaan kontrasepsi: alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) (3 ibu), implan (1 ibu), suntik (1 ibu), kondom (1 ayah), serta metode kalender (1 ibu), sedangkan sebagian besar tidak menggunakan kontrasepsi (8 ibu). Mereka menyatakan tidak ingin memiliki anak lagi, sementara beberapa lainnya ingin menunda atau segera memiliki anak. Database ini dapat digunakan sebagai dasar penyusunan prosedur program Keluarga Berencana di tingkat bawah. Sebagai kesimpulan, pemberdayaan kader melalui pengumpulan data pasangan usia subur terbukti meningkatkan kesiapan masyarakat dalam memperkuat program Keluarga Berencana.
Copyrights © 2026