Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina merupakan kawasan konservasi yang memiliki potensi ekologis dan wisata alam yang tinggi, namun masih menghadapi berbagai permasalahan yang mempengaruhi keberlanjutan pengelolaannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis status keberlanjutan pengelolaan TWA Buluh Cina serta mengidentifikasi atribut yang paling berpengaruh terhadap keberlanjutan kawasan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 90 responden yang terdiri atas masyarakat sekitar kawasan dan pemangku kepentingan. Analisis dilakukan menggunakan metode Multidimensional Scaling (MDS) melalui pendekatan Rapid Appraisal for Natural Tourism Park (Rap-NTP) berdasarkan lima dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastruktur, serta hukum dan kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan dimensi ekologi sebesar 54,84, ekonomi 10,38, sosial budaya 45,12, teknologi dan infrastruktur 58,26, serta hukum dan kelembagaan 64,43. Secara multidimensi, nilai indeks keberlanjutan pengelolaan TWA Buluh Cina sebesar 45,01 termasuk kategori kurang berkelanjutan. Atribut sensitif yang paling mempengaruhi keberlanjutan kawasan meliputi potensi ekonomi objek wisata, pola kehidupan masyarakat, jumlah personel pengamanan kawasan, penutupan lahan berhutan, keterlibatan masyarakat, ketersediaan jaringan komunikasi dan internet, spesies flora dan fauna langka, tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum, aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan, sarana perlindungan kawasan, pemberdayaan masyarakat, teknologi digital untuk promosi wisata, dan koordinasi antar pemangku kepentingan. Strategi pengelolaan diarahkan pada revitalisasi potensi wisata, peningkatan pemberdayaan masyarakat, penguatan perlindungan kawasan, pemulihan ekosistem, serta optimalisasi promosi wisata berbasis digital untuk meningkatkan keberlanjutan pengelolaan kawasan.
Copyrights © 2026