Keterampilan komunikasi merupakan aset utama bagi siswa di era modern. Namun, banyak siswa dengan kemampuan akademik dan keagamaan yang baik mengalami hambatan psikologis seperti kecemasan dan kurang percaya diri saat berbicara di depan umum (kecemasan bicara). Penelitian kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif ini bertujuan untuk secara komprehensif meneliti implementasi program pelatihan bicara di Pondok Pesantren Modern Al-Hasyimiyah Tegalratu Ciwandan Cilegon, menganalisis perkembangan karakter percaya diri siswa, dan mengeksplorasi sejauh mana tahapan kegiatan ini dapat mengatasi hambatan psikologis dan terus membangun karakter mental yang tangguh pada siswa. Data diperoleh melalui wawancara dengan kepala pesantren, pelatih bicara perempuan (ustadzah), pemimpin organisasi mahasiswa (OPPM), dan beberapa siswa, didukung oleh observasi langsung dan dokumentasi. Studi ini mengungkapkan bahwa sesi pelatihan dilakukan secara konsisten pada Kamis malam, Selasa malam, dan Minggu pagi. Program ini tidak hanya meningkatkan ekspresi verbal tetapi juga menanamkan keberanian dan kemandirian. Pelaksanaannya melibatkan kolaborasi antara pengurus pesantren, pengawas, dewan mahasiswa, dan tim akademik. Program ini sangat mendorong kepercayaan diri siswa, yang terlihat dari kesediaan mereka untuk berbicara di depan umum dan keterbukaan terhadap umpan balik. Tantangan seperti kecemasan dan keterbatasan waktu diatasi melalui latihan dan motivasi yang berkelanjutan.Communication skills are a primary asset for students in the modern era. However, many students with good academic religious abilities experience psychological barriers such as anxiety and a lack of confidence when speaking in public (speech anxiety). This qualitative research with a descriptive case study method aims to comprehensively examine the implementation of the speech training program at Pondok Pesantren Modern Al-Hasyimiyah Tegalratu Ciwandan Cilegon, analyze the development of students' self-confidence character, and explore the extent to which the stages of these activities can overcome psychological barriers and continuously reconstruct a resilient mental character in students. Data were obtained through interviews with the pesantren’s head, the female speech coach (ustadzah), leaders of the student organization (OPPM), and several students, supported by direct observations and documentation. The study reveals that training sessions are conducted consistently on Thursday nights, Tuesday nights, and Sunday mornings. This program not only enhances verbal expression but also instills courage and self-reliance. The execution involves collaboration among pesantren administrators, supervisors, student boards, and the academic team. The program strongly fosters students’ self-confidence, evident in their willingness to speak publicly and openness to feedback. Challenges like anxiety and time constraints are addressed through continuous practice and motivation.
Copyrights © 2026