Penelitian ini mendeskripsikan dan membandingkan model pembentukan karakter dalam sastra anak Indonesia dan sastra anak terjemahan serta menjelaskan relevansinya terhadap pembelajaran prosa di PTKIN. Kajian difokuskan pada cerita Bawang Merah dan Bawang Putih sebagai representasi sastra anak Indonesia dan novel Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi sebagai representasi sastra anak terjemahan. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sastra bandingan. Data berupa kutipan, dialog, narasi, dan penggambaran tokoh yang menunjukkan nilai pendidikan dan strategi penyampaian pesan dalam kedua karya. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan teknik baca-catat serta dianalisis menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bawang Merah dan Bawang Putih menyampaikan nilai karakter secara tersurat, normatif, dan didaktis melalui pola ganjaran dan hukuman, sedangkan Totto-Chan menghadirkan pembentukan karakter secara tersirat, reflektif, dan humanistik melalui pengalaman tokoh dan interaksi sosial. Nilai yang ditemukan meliputi tanggung jawab, saling menghormati, kesederhanaan, kemandirian, kerja keras, dan penghargaan terhadap orang lain. Kedua karya juga memperlihatkan perbedaan sumber nilai, yakni budaya lokal Indonesia dan budaya Jepang. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua model sastra relevan dimanfaatkan dalam pembelajaran prosa di PTKIN untuk mengembangkan apresiasi sastra, literasi budaya, dan refleksi karakter mahasiswa.
Copyrights © 2026