AbstrakStudi ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika pengelolaan Pasa Pitalah–Bungo Tanjuang (Pita-Bungo), yang terletak di tanah adat milik Suku Jambak di dua nagari, dan untuk merumuskan strategi pemberdayaan kelembagaan berdasarkan Penelitian Aksi Partisipatif (PAR). Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan serangkaian Diskusi Kelompok Fokus (FGD) yang melibatkan pemilik tanah, Kerapatan Adat Nagari (KAN), pemerintah nagari, dan pemangku kepentingan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perebutan kepemilikan dan pengelolaan tanah pasa merupakan akar penyebab stagnasi pasar. Melalui pendekatan PAR, dicapai kesepakatan untuk menyerahkan hak pengelolaan pasar dari pemilik tanah adat kepada KAN, disertai dengan pembentukan komite pasar yang mewakili unsur adat, pemerintah, dan masyarakat. Temuan ini menekankan pentingnya tata kelola pasar tradisional yang mengintegrasikan nilai-nilai adat dan prinsip-prinsip manajemen profesional, sehingga pasar tidak hanya kompetitif secara ekonomi tetapi juga menjadi instrumen untuk melestarikan warisan budaya. Kata Kunci: Minangkabau; Pasa Nagari; Tanah Ulayat; Tata Kelola AbstractThis study aims to explain the dynamics of the management of Pasa Pitalah–Bungo Tanjuang (Pita-Bungo), located on customary land belonging to the Jambak Tribe in two nagari, and to formulate an institutional empowerment strategy based on Participatory Action Research (PAR). Data were obtained through participatory observation, in-depth interviews, and a series of Focus Group Discussions (FGDs) involving landowners, the Kerapatan Adat Nagari (KAN), the nagari government, and other stakeholders. The results indicate that the tug-of-war over ownership and management of pasa land is the root cause of market stagnation. Through the PAR approach, an agreement was reached to transfer market management rights from customary landowners to KAN, accompanied by the formation of a market committee representing customary, government, and community elements. These findings emphasize the importance of traditional market governance that integrates cultural values and professional management principles, so that markets are not only economically competitive but also become instruments for preserving cultural heritage. Keywords: Minangkabau; Pasa Nagari; Tanah Ulayat; Governance
Copyrights © 2026