Konversi pembangkit listrik berbahan bakar minyak menjadi gas atau Liquefied Natural Gas (LNG) merupakan strategi pengurangan biaya pokok produksi listrik pada rencana transisi energi nasional. Pada sistem isolated yang berkebutuhan energi rendah, memiliki tantangan biaya midstream yang tinggi dan keterbatasan alokasi volume Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Studi ini meneliti biaya dampak konversi energi primer ini pada PLTMG XYZ. Biaya tersebut dipengaruhi oleh harga gas, biaya midstream, porsi volume HGBT, dan harga gas non-HGBT dengan basis Indonesian Crude Price (ICP). Dampaknya, keekonomian program iniĀ mengalami ketidakpastian. Metode yang digunakan pada penelitian ini analisis biaya incremental dengan Equivalent Annual Cost (EAC) dan Incremental Net Present Value. Skenario porsi volume HGBT dan ketidakpastian ICP digunakan untuk menguji sensitivitas. Kesimpulannya, semua skenario deterministik menghasilkan Incremental NPV positif. Pada skenario 100% volume harga gas non-HGBT menghasilkan nilai Rp84,07 miliar, dan skenario 100% volume HGBT menghasilkan Rp783,56 miliar. Pada setiap penambahan 25% porsi volume HGBT, menurunkan biaya rata-rata Rp29,98 miliar per tahun. Dengan simulasi Monte Carlo skenario 100% harga gas non-HGBT menghasilkan risiko biaya tinggi, dengan rata-rata nilai Incremental NPV negatif Rp308,95 miliar. Sehingga keekonomian konversi bahan bakar pada pembangkit isolated dipengaruhi oleh harga gas plant gate, porsi alokasi HGBT, dan mitigasi risiko harga ICP.
Copyrights © 2026