Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perancangan Penempatan Material Cadang di PLN Transmisi Jawa Bagian Barat Melalui Pendekatan Clustering Analysis Abu Muslim Al Ashfahany; Mar'atus Sholihah; Erwin Widodo
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1877

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perencanaan dan penempatan material cadang yang optimal pada PLN Transmisi UIT JBB dengan pendekatan Clustering Analysis. Permasalahan yang diangkat meliputi tingginya biaya persediaan, lamanya lead time distribusi, serta ketergantungan pada pengadaan emergency akibat sistem penempatan material cadang yang belum terstruktur. Metode penelitian menggunakan K-Means Clustering, dengan Elbow Method untuk menentukan jumlah cluster optimal berdasarkan karakteristik aset transmisi, pola kebutuhan material, dan cakupan wilayah operasional setiap UPT. Data yang digunakan merupakan data sekunder PLN UIT JBB, mencakup jumlah gardu induk, kapasitas trafo, panjang saluran transmisi, serta penggunaan material cadang periode 2023–2025. Pengolahan data dilakukan melalui tahap data selection, normalisasi Min-Max Scaling, perhitungan Euclidean Distance, Within-Cluster Sum of Squares (WCSS), dan proses clustering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cluster optimal adalah k = 3. Cluster pertama terdiri atas UPT Cilegon dan Cikupa dengan kebutuhan material tinggi; cluster kedua terdiri atas Gandul dan Pulogadung dengan karakteristik aset menengah; sedangkan cluster ketiga terdiri atas Cawang dan Durikosambi dengan kapasitas aset besar dan kepadatan gardu induk tinggi. Strategi penempatan material berbasis clustering melalui centralized warehouse, decentralized warehouse, dan hybrid/support hub mampu meningkatkan efisiensi distribusi material cadang. Model ini menghasilkan efisiensi biaya inventory dan distribusi sebesar 18,7%, pengurangan emergency procurement sebesar 22,4%, serta penurunan lead time sebesar 16,3%. Temuan ini mendukung peningkatan keandalan pemenuhan material, percepatan respons gangguan, pengurangan risiko keterlambatan operasional, penguatan koordinasi antar-UPT, dan optimalisasi supply chain transmisi PLN UIT JBB secara berkelanjutan pada sistem kelistrikan regional yang kompleks dinamis..
Analisis Biaya Incremental Gasifikasi Pembangkit Isolated dari BBM ke LNG dengan Pendekatan Equivalent Annual Cost dan Simulasi Monte Carlo Ady Rogo Priyono; Mar'atus Sholihah
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.1953

Abstract

Konversi pembangkit listrik berbahan bakar minyak menjadi gas atau Liquefied Natural Gas (LNG) merupakan strategi pengurangan biaya pokok produksi listrik pada rencana transisi energi nasional. Pada sistem isolated yang berkebutuhan energi rendah, memiliki tantangan biaya midstream yang tinggi dan keterbatasan alokasi volume Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Studi ini meneliti biaya dampak konversi energi primer ini pada PLTMG XYZ. Biaya tersebut dipengaruhi oleh harga gas, biaya midstream, porsi volume HGBT, dan harga gas non-HGBT dengan basis Indonesian Crude Price (ICP). Dampaknya, keekonomian program ini  mengalami ketidakpastian. Metode yang digunakan pada penelitian ini analisis biaya incremental dengan Equivalent Annual Cost (EAC) dan Incremental Net Present Value. Skenario porsi volume HGBT dan ketidakpastian ICP digunakan untuk menguji sensitivitas. Kesimpulannya, semua skenario deterministik menghasilkan Incremental NPV positif. Pada skenario 100% volume harga gas non-HGBT menghasilkan nilai Rp84,07 miliar, dan skenario 100% volume HGBT menghasilkan Rp783,56 miliar. Pada setiap penambahan 25% porsi volume HGBT, menurunkan biaya rata-rata Rp29,98 miliar per tahun. Dengan simulasi Monte Carlo skenario 100% harga gas non-HGBT menghasilkan risiko biaya tinggi, dengan rata-rata nilai Incremental NPV negatif Rp308,95 miliar. Sehingga keekonomian konversi bahan bakar pada pembangkit isolated dipengaruhi oleh harga gas plant gate, porsi alokasi HGBT, dan mitigasi risiko harga ICP.