Aktivitas hoteling kapal pengangkut batubara saat sandar di Jetty PLTU Tanjung Jati B masih dipenuhi oleh auxiliary engine berbahan bakar minyak, sehingga menimbulkan biaya operasional dan emisi lokal yang tinggi. Onshore Power Supply (OPS) menggantikan pasokan tersebut dengan listrik dari jaringan darat. Penelitian ini menganalisis kelayakan tekno-ekonomi pemasangan OPS berbasis Static Frequency Converter 750 kVA melalui pendekatan kuantitatif studi kasus. Aspek ekonomi dinilai menggunakan model penghematan bahan bakar (avoided fuel cost) dengan indikator NPV, IRR, DPP, dan B/C Ratio pada empat skenario pemanfaatan (10%, 50%, 80%, dan 100%), dilengkapi analisis arus kas 25 tahun, analisis sensitivitas one-at-a-time, matriks sensitivitas dua arah, serta analisis ekosistem manfaat ganda. Hasil menunjukkan proyek tidak layak pada pemanfaatan 10% (NPV −Rp27,43 miliar; B/C 0,34) namun layak pada 50%, 80%, dan 100%, dengan NPV meningkat hingga +Rp78,35 miliar, IRR 43,06%, dan periode pengembalian 3–8 tahun; titik impas tercapai pada utilisasi sekitar 33,34%. Variabel paling berpengaruh adalah tingkat pemanfaatan OPS, diikuti WACC dan biaya O&M. Setiap sandar/call menghasilkan penghematan bersih setara Rp5.764/kWh, dan implementasi OPS memberikan manfaat ganda bagi unit pembangkitan serta unit distribusi PLN.
Copyrights © 2026