Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan operasional produksi ikan di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam dalam kaitannya dengan kebijakan efisiensi anggaran, serta faktor-faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman terhadap pengembangan usaha. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan merumuskan strategi revitalisasi yang efektif dan berkelanjutan dengan menggunakan kerangka Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats (SWOT) yang dipadukan dengan Business Model Canvas (BMC). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan SWOT yang meliputi Internal Factor Analysis Summary (IFAS), External Factor Analysis Summary (EFAS), dan Matriks SWOT, serta Government Business Model Canvas (GBMC) berdasarkan perspektif Kepala BPBAT Sungai Gelam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPBAT Sungai Gelam memiliki posisi internal yang relatif kuat, dengan total skor kekuatan sebesar 1,92 dibandingkan skor kelemahan sebesar 1,46 (selisih bersih +0,46). Dari sisi eksternal, peluang lebih dominan dibandingkan ancaman, dengan total skor peluang sebesar 1,93 dan skor ancaman sebesar 1,63 (selisih bersih +0,31). Kekuatan utama meliputi ketersediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai, kualitas induk dan benih unggul, sumber daya manusia yang kompeten, serta tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi. Sementara itu, kelemahan utama meliputi keterbatasan anggaran, kondisi sarana dan prasarana yang mulai menurun, kapasitas operasional yang terbatas, serta sistem manajemen yang belum optimal. Peluang utama berasal dari tingginya permintaan benih ikan, digitalisasi layanan, penguatan kemitraan, serta optimalisasi aset sebagai sumber pendapatan di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (non-APBN). Adapun ancaman utama meliputi kebijakan efisiensi anggaran itu sendiri, risiko terhadap kualitas dan kuantitas produksi, ketidakpastian pasokan benih, serta faktor lingkungan. Berdasarkan hasil Matriks SWOT, strategi Strengths–Opportunities (SO) memperoleh nilai tertinggi sebesar 3,85, diikuti oleh strategi Strengths–Threats (ST) sebesar 3,55, Weaknesses–Opportunities (WO) sebesar 3,39, dan Weaknesses–Threats (WT) sebesar 3,09. Hasil tersebut menempatkan BPBAT Sungai Gelam pada Kuadran I (Strategi Berorientasi Pertumbuhan). Analisis GBMC turut menguatkan posisi tersebut, dengan blok Key Activities dan Key Partnerships memperoleh skor tertinggi di antara sembilan blok model bisnis. Oleh karena itu, strategi revitalisasi yang direkomendasikan berfokus pada peningkatan kapasitas produksi benih, pengembangan layanan digital, penguatan kemitraan dengan pembudidaya ikan, sektor swasta, badan usaha milik negara, dan perguruan tinggi, serta optimalisasi pemanfaatan aset sebagai sumber pendapatan non-APBN guna menjaga keberlanjutan fungsi pelayanan publik BPBAT Sungai Gelam di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Kata kunci: revitalisasi bisnis; produksi ikan; analisis SWOT; Government Business Model Canvas; efisiensi anggaran; BPBAT Sungai Gelam.
Copyrights © 2026