Siswa dengan bibir sumbing sering mengalami rendahnya rasa percaya diri akibat stigma sosial di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan psikologis dan sosial untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika interaksi antara guru Bimbingan Konseling (BK) dan siswa dengan bibir sumbing dalam upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa. Wawancara dilakukan untuk menggali strategi, tantangan, serta dampak dari pendekatan yang digunakan oleh guru BK terhadap perkembangan psikologis siswa. Metode yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan guru BK dan siswa yang menjadi subjek penelitian. Data dianalisis secara kualitatif. Analisis data kualitatif terdiri dari tiga jalur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan anak dengan bibir sumbing sering menghadapi hambatan fisik dan psikologis yang memengaruhi kepercayaan diri. Dukungan melalui lingkungan inklusif, bimbingan konseling, terapi wicara, dan self-talk positif dapat membantu mereka mengatasi stigma, mengelola perasaan negatif, dan membangun rasa percaya diri. Dengan dukungan teman sebaya, guru, dan konselor, anak-anak ini dapat berkembang secara sosial dan emosional, menghadapi tantangan dengan optimisme, dan merencanakan masa depan tanpa terbebani stigma.
Copyrights © 2026