Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa seorang mufassir sering kali dipengaruhi oleh lingkungan intelektual tempat ia belajar dan berkembang. Dalam tradisi keilmuan Islam, tidak jarang seorang mufassir menjadikan karya mufassir sebelumnya sebagai rujukan utama dalam menyusun tafsirnya. Secara historis, pemikiran Muhyiddin Ibn Arabi diketahui menjadi salah satu sumber inspirasi bagi Syekh Nawawi al-Bantani dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bercorak sufistik, khususnya dalam karya tafsirnya, Tafsir Marah Labid. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), dengan sumber utama berupa Futuhat al-Makkiyah dan Tafsir Marah Labid. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teori transformasi intelektual dan metodologis dari Max Weber untuk melihat proses adaptasi dan kontekstualisasi pemikiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pemikiran Ibn Arabi dalam tafsir Nawawi al-Bantani dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, faktor lingkungan intelektual dan tradisi pesantren yang membentuk corak sufistik dalam penafsiran Nawawi. Kedua, kedalaman metafisika tasawuf Ibn Arabi yang memberikan landasan spiritual dalam memahami ayat-ayat ketuhanan. Ketiga, kompatibilitas antara pendekatan tasawuf Ibn Arabi dengan prinsip syariat, sehingga tidak menimbulkan pertentangan teologis yang signifikan. Atas dasar inilah Nawawi al-Bantani mengadopsi dan mentransformasikan sebagian pemikiran Ibn Arabi dalam karya tafsirnya.
Copyrights © 2026