Abstract The Pew Research Center 2024 released survey results indicating that Indonesia is the most religious country in the world. However, there is a sad paradox: cases of intolerance in the name of religion have continued to occur over the past five years. Yet Indonesia possesses Pancasila as the nation’s noble values, which should serve as a guide in all aspects of life, including religious life. Using a descriptive-qualitative method and literature review, the study formulates three contextual theological frameworks, as the novelty of this study:Civilized Believe in God, Nation Dogmatic, and Bridge of Reconciliation to bridge private religiosity with public solidarity. By integrating doctrinal values from diverse faiths with the ethical foundations of Pancasila, this theology provides a constructive model for interfaith coexistence, ensuring that religious promises such as rahmatan lil’alamin, good news, imago dei, shanti, and rahayu are realized as lived realities in Indonesian society. The framework thus positions Pancasila Theology as both an academic innovation and a practical instrument for sustaining tolerance, justice, and harmony in a pluralistic nation. Abstrak Pew Research Center 2024 merilis hasil survei yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Namun, terdapat sebuah paradoks yang menyedihkan: kasus-kasus intoleransi atas nama agama terus terjadi selama lima tahun terakhir. Padahal, Indonesia memiliki Pancasila sebagai nilai-nilai luhur bangsa, yang seharusnya menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan beragama. Dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif dan tinjauan pustaka, penelitian ini merumuskan tiga kerangka teologis kontekstual, sebagai novum dari penelitian ini: Kepercayaan Beradab kepada Tuhan, Dogma Bangsa, dan Jembatan Rekonsiliasi untuk menjembatani religiositas pribadi dengan solidaritas publik. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai doktrinal dari berbagai keyakinan dengan landasan etis Pancasila, teologi ini menyediakan model konstruktif bagi kerukunan antaragama, memastikan bahwa janji-janji keagamaan seperti rahmatan lil’alamin, kabar baik, imago dei, shanti, dan rahayu diwujudkan sebagai realitas yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Kerangka kerja ini menempatkan Teologi Pancasila sebagai inovasi akademis sekaligus instrumen praktis untuk mempertahankan toleransi, keadilan, dan harmoni dalam negara yang pluralistik.
Copyrights © 2026