This study aimed to examine the roles of loneliness and perceived social support in psychological well-being among migrant students. Migrant students are important to study because they face academic, social, and emotional adjustment demands in a new environment, which may affect their psychological well-being. This study used a quantitative approach with a correlational design and involved 126 migrant students as respondents. Data were collected using loneliness, perceived social support, and psychological well-being scales, and were analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that loneliness had a negative role in psychological well-being, whereas perceived social support had a positive role in psychological well-being. In addition, both variables jointly contributed to explaining psychological well-being among migrant students. These findings indicate that lower levels of loneliness and higher levels of perceived social support are associated with better psychological well-being among migrant students. Practically, the results may serve as a basis for universities to develop mentoring programs, peer support groups, and adjustment counseling services for migrant students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran loneliness dan perceived social support terhadap psychological well-being pada mahasiswa rantau. Mahasiswa rantau penting diteliti karena mereka menghadapi tuntutan adaptasi akademik, sosial, dan emosional di lingkungan baru, yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 126 mahasiswa rantau sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan skala loneliness, perceived social support, dan psychological well-being, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness berperan negatif terhadap psychological well-being, sedangkan perceived social support berperan positif terhadap psychological well-being. Selain itu, kedua variabel tersebut secara bersama-sama berperan dalam menjelaskan psychological well-being mahasiswa rantau. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat kesepian dan semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, semakin baik kesejahteraan psikologis mahasiswa rantau. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan program pendampingan, dukungan sebaya, dan layanan konseling adaptasi bagi mahasiswa rantau.
Copyrights © 2026