Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MEMBANGKITKAN BUDAYA SIAP SIAGA DARURAT MELALUI PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA BAGI SISWA SEKOLAH DASAR Bernike Burnama; Aurelia Naftali Kalengkongan; Mariani Angeline; Saula Rahmadianti K. Pertiwi; Novario Jaya Perdana
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 3 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i3.34931

Abstract

ABSTRACT First aid is the immediate assistance given to individuals who suffer from injury or sudden illness, with the aim of saving lives, preventing the condition from worsening, and accelerating recovery. The ability to provide first aid (P3K) is a crucial basic skill in responding to emergencies. However, students’ knowledge and skills in administering first aid remain limited, resulting in suboptimal emergency responses. This community service (ABDIMAS) activity was designed and implemented to provide first aid training and introduce medicinal plants to students, specifically targeting fourth and fifth graders.The program consisted of educational sessions, hands-on practice, and planting medicinal plants. The hands-on component included treating injured peers and simulating emergency scenarios. To evaluate the success of the program, interviews were conducted with nine students using nine structured questions to assess their understanding and experiences after participating in the activity.The interview results revealed that all nine students understood the basic steps of first aid and were able to identify several types of medicinal plants along with their benefits. This activity is expected to raise students’ awareness of the importance of basic health knowledge and the simple use of natural resources. It also aims to build students’ confidence in their preparedness to respond to emergencies within the school environment.Through this educational approach, students are expected to be capable of administering first aid to themselves and their peers before professional medical help arrives, while also valuing and utilizing natural resources to support health. Additionally, the activity introduced various medicinal plants that can be used as part of natural healing efforts.   ABSTRAK Pertolongan pertama merupakan bantuan segera yang diberikan kepada seseorang yang mengalami cedera atau sakit mendadak, dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah kondisi memburuk, dan mempercepat pemulihan. Kemampuan memberikan pertolongan pertama (P3K) merupakan keterampilan dasar yang penting dalam menghadapi situasi darurat. Namun, pengetahuan dan keterampilan P3K pada siswa masih terbatas, sehingga respons terhadap keadaan darurat belum optimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (ABDIMAS) ini dirancang untuk memberikan pelatihan pertolongan pertama serta pengenalan tanaman obat kepada siswa kelas IV dan V. Program ini mencakup kegiatan sosialisasi, praktik langsung pertolongan pertama, serta penanaman tanaman obat. Praktik dilakukan melalui simulasi dan latihan mengobati teman yang mengalami luka ringan. Evaluasi keberhasilan program dilakukan melalui wawancara terhadap sembilan siswa dengan sembilan pertanyaan yang dirancang untuk mengukur pemahaman dan pengalaman setelah mengikuti kegiatan. Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh siswa memahami langkah-langkah dasar pertolongan pertama serta dapat mengenali beberapa jenis tanaman obat beserta manfaatnya. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya pengetahuan kesehatan dasar, mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara sederhana, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi keadaan darurat di lingkungan sekolah. Melalui pendekatan edukatif, siswa diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama kepada diri sendiri maupun teman sebaya sebelum bantuan medis datang, serta menghargai kekayaan alam sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.
LONELINESS, PERCEIVED SOCIAL SUPPORT, DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA RANTAU Aurelia Naftali Kalengkongan; Fransisca Iriani Roesmala Dewi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10157

Abstract

This study aimed to examine the roles of loneliness and perceived social support in psychological well-being among migrant students. Migrant students are important to study because they face academic, social, and emotional adjustment demands in a new environment, which may affect their psychological well-being. This study used a quantitative approach with a correlational design and involved 126 migrant students as respondents. Data were collected using loneliness, perceived social support, and psychological well-being scales, and were analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that loneliness had a negative role in psychological well-being, whereas perceived social support had a positive role in psychological well-being. In addition, both variables jointly contributed to explaining psychological well-being among migrant students. These findings indicate that lower levels of loneliness and higher levels of perceived social support are associated with better psychological well-being among migrant students. Practically, the results may serve as a basis for universities to develop mentoring programs, peer support groups, and adjustment counseling services for migrant students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran loneliness dan perceived social support terhadap psychological well-being pada mahasiswa rantau. Mahasiswa rantau penting diteliti karena mereka menghadapi tuntutan adaptasi akademik, sosial, dan emosional di lingkungan baru, yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 126 mahasiswa rantau sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan skala loneliness, perceived social support, dan psychological well-being, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness berperan negatif terhadap psychological well-being, sedangkan perceived social support berperan positif terhadap psychological well-being. Selain itu, kedua variabel tersebut secara bersama-sama berperan dalam menjelaskan psychological well-being mahasiswa rantau. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat kesepian dan semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, semakin baik kesejahteraan psikologis mahasiswa rantau. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan program pendampingan, dukungan sebaya, dan layanan konseling adaptasi bagi mahasiswa rantau.
PENDIDIKAN BERINTEGRITAS SEBAGAI FONDASI GENERASI MASA DEPAN Aurelia Naftali Kalengkongan; Paula Jessica Claudia Sibi; Celine Vandea Anika Tumundo; Susana Febie Sombuk; Vian Stanly Immanuel Rumainum; Jap Tji Beng
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8331

Abstract

Education plays a crucial role in shaping individuals who are not only intellectually capable but also possess integrity and moral character. Although integrity has become a central focus of national education policy, empirical studies that deeply explore university students’ subjective experiences in interpreting and internalizing integrity within higher education remain limited. This study aims to explore the meaning of integrity from students’ perspectives and to identify the process through which integrity values are internalized in academic life. A qualitative approach with a phenomenological design was employed. Five active university students were purposively selected based on their academic engagement and participation in character education activities. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation and analyzed using a phenomenological analysis method. The findings reveal that integrity is understood as the alignment between thoughts, words, and actions grounded in moral values. The formation of integrity is influenced by educators’ role modeling, a supportive academic environment, reflective experiences in facing moral dilemmas, and self-awareness as part of students’ moral identity. These findings enrich the discourse on integrity-based education in higher education and provide practical implications for developing more contextual and sustainable character development programs. ABSTRAK Pendidikan berperan penting dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan bermoral. Meskipun nilai integritas telah menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional, kajian empiris yang menggali secara mendalam pengalaman subjektif mahasiswa dalam memaknai dan menginternalisasi integritas di pendidikan tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna integritas dari perspektif mahasiswa serta mengidentifikasi proses internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Lima mahasiswa aktif dipilih secara purposive berdasarkan kriteria keterlibatan dalam kegiatan akademik dan pengalaman mengikuti pendidikan karakter. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas dimaknai sebagai keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan yang berlandaskan nilai moral. Proses pembentukan integritas dipengaruhi oleh keteladanan pendidik, lingkungan akademik yang suportif, pengalaman reflektif dalam menghadapi dilema moral, serta kesadaran diri sebagai bagian dari identitas moral mahasiswa. Temuan ini memperkaya kajian tentang pendidikan berintegritas di pendidikan tinggi dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan program pembinaan karakter yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.