This study analyzes the representation of femininity and the construction of women's power in Wicked: Part One (2024) using Roland Barthes' semiotic approach through three levels of meaning: denotation, connotation, and myth. The analysis aims to uncover how visual, narrative, and symbolic signs in the film work to construct meanings surrounding the two main characters, Glinda and Elphaba. The findings reveal a strong contrast between the ideal femininity represented by Glinda, who aligns with social norms and dominant aesthetics, and Elphaba’s position as 'the Other,' marked by physical differences and social stigma. This distinction serves not only as an aesthetic element but also as an ideological code exposing the power structure within the fictional society of Oz. The study also finds that the film presents two distinct modes of female power. Glinda exhibits power based on performativity, social acceptance, and patriarchal negotiation, whereas Elphaba demonstrates power through resistance, defiance, and efforts to subvert the stigma attached to her. These representations deconstruct the myth that obedience is the only way for women to be accepted within the social structure. Consequently, Wicked: Part One presents a counter-discourse asserting that femininity and women's power are complex, fluid, and intrinsically linked to the power relations that construct who is deemed "good" and who is labeled "wicked." Penelitian ini menganalisis representasi feminitas dan konstruksi kekuasaan perempuan dalam Wicked: Part One (2024) dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes melalui tiga level makna, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Analisis dilakukan untuk mengungkap bagaimana tanda visual, naratif, dan simbolik dalam film bekerja membentuk pemaknaan terhadap dua tokoh utama, yaitu Glinda dan Elphaba. Hasil penelitian menunjukkan adanya kontras yang kuat antara feminitas ideal yang direpresentasikan oleh Glinda, yang tampil sesuai norma sosial dan estetika dominan, dengan posisi Liyan pada Elphaba yang ditandai melalui perbedaan fisik dan stigma sosial. Perbedaan ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai kode ideologis yang mengungkap struktur kekuasaan dalam masyarakat fiktif Oz. Penelitian ini juga menemukan bahwa film tersebut menampilkan dua mode kekuasaan perempuan yang berbeda. Glinda memperlihatkan kekuasaan berbasis performativitas, penerimaan sosial, dan negosiasi patriarki, sedangkan Elphaba menunjukkan kekuasaan melalui resistensi, pembangkangan, serta upaya membalikkan makna stigma yang dilekatkan padanya. Representasi tersebut membongkar mitos bahwa kepatuhan adalah satu-satunya cara bagi perempuan untuk diterima dalam struktur sosial. Oleh karena itu, film Wicked: Part One menghadirkan wacana tandingan yang menegaskan bahwa feminitas dan kekuasaan perempuan bersifat kompleks, cair, dan terkait erat dengan relasi kuasa yang mengonstruksi siapa yang dianggap “baik” dan siapa yang dilabeli “jahat”.
Copyrights © 2026