Wilayah pesisir Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, mengalami abrasi pantai yang semakin intensif sebagai akibat interaksi antara dinamika alam dan tekanan antropogenik. Kondisi ini mendorong pembangunan tanggul laut sebagai upaya mitigasi struktural, namun dampak lingkungan dan sosial dari infrastruktur tersebut masih memerlukan evaluasi komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan tanggul laut terhadap lingkungan pesisir dan kondisi sosial masyarakat serta menilai tingkat kerentanan wilayah pesisir. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain deskriptif-analitik. Data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 51 responden masyarakat pesisir, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi lapangan. Analisis kerentanan dilakukan menggunakan Coastal Vulnerability Index (CVI) dengan mengintegrasikan parameter biofisik dan sosial-ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan nilai CVI sebesar 4,25 yang termasuk kategori kerentanan tinggi, dipengaruhi oleh kemiringan pantai yang sangat landai, substrat pasir halus–lumpur, minimnya vegetasi pelindung pantai, serta tingginya ketergantungan ekonomi masyarakat terhadap sumber daya pesisir. Secara sosial, lebih dari 70% responden menyatakan bahwa tanggul laut memberikan manfaat perlindungan terhadap permukiman dan lahan usaha serta meningkatkan rasa aman. Namun, temuan kualitatif menunjukkan adanya perubahan akses nelayan ke laut, penurunan fungsi pantai sebagai ruang sosial, dan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan jangka panjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tanggul laut efektif sebagai perlindungan jangka pendek, tetapi perlu dikombinasikan dengan solusi berbasis ekosistem dan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026