Tinjauan pustaka sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara kritis bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan berdasarkan sintesis 18 artikel relevan yang dipublikasikan, menggunakan kerangka Tangga Partisipasi Warga Arnstein sebagai pisau analisis utama. Hasil studi menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat didominasi oleh kategori Tokenisme, mencakup 11 dari 18 studi yang dikaji, mencerminkan praktik Konsultasi (misalnya Gamplong, Ambon) dan Pemberian Informasi. Pola ini mengindikasikan bahwa meskipun komunitas lokal diberikan peluang untuk menyampaikan masukan, mereka secara konsisten tidak memiliki otoritas pengambilan keputusan yang mengikat, yang menyebabkan disparitas antara harapan dan hasil program. Sebaliknya, Kekuasaan Warga (Citizen Power) berhasil dicapai dalam 6 studi, menegaskan adanya model Community-Based Tourism (CBT) yang otentik. Tingkat partisipasi tertinggi, seperti Kemitraan (misalnya Gunung Salak, Cireundeu) dan Kontrol Warga (misalnya Cisampih, Tebing Breksi), membuktikan bahwa transfer kekuasaan dan pembagian tanggung jawab secara eksplisit merupakan faktor krusial dalam membangun tata kelola pariwisata yang akuntabel. Dengan demikian, keberlanjutan pengembangan pariwisata sangat bergantung pada pergeseran paradigma dari sekadar melibatkan menuju memberdayakan komunitas lokal melalui reformasi struktural dalam mekanisme tata kelola.
Copyrights © 2026