Siswa tuna rungu memiliki karakteristik pembelajaran yang sangat bergantung pada pengalaman visual dan sensorik non-auditori, sehingga desain ruang belajar berperan penting dalam mendukung proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengalaman dan perilaku siswa tuna rungu dalam berinteraksi dengan ruang belajar di SLBN Gedangan sebagai dasar perumusan konsep perancangan interior pembelajaran inklusif berbasis pendekatan multisensori. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen interior non-visual, seperti tekstur material, tata letak furnitur, dan pencahayaan, berpengaruh terhadap orientasi ruang, kenyamanan, serta fokus belajar siswa. Pendekatan multisensori dinilai mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan siswa tuna rungu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan desain interior pendidikan inklusif.
Copyrights © 2026