Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan global, dan perilaku berisiko pada orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) berkontribusi terhadap penularan sekunder serta menghambat keberhasilan terapi antiretroviral (ARV). Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis simultan pengaruh status perkawinan, tingkat pendidikan, pengetahuan, usia, dan sikap terhadap perilaku berisiko pada pasien HIV yang telah terdiagnosis dan menjalani terapi ARV, suatu kelompok yang masih jarang menjadi fokus penelitian. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan perilaku berisiko pada pasien HIV di RSUP H. Adam Malik Medan. Penelitian analitik dengan desain case-control melibatkan 80 responden yang terdiri atas 40 kasus dan 40 kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan HIV Risk Behavior Questionnaire (HRBS), HIV Knowledge Questionnaire-18 (HIV-KQ-18), dan kuesioner karakteristik responden, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan, tingkat pendidikan, dan pengetahuan berhubungan signifikan dengan perilaku berisiko (P-value0,05), sedangkan usia dan sikap tidak berhubungan (P-value0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa status perkawinan (AOR=0,198), pengetahuan (AOR=0,233), dan tingkat pendidikan (AOR=0,230) tetap menjadi determinan signifikan, dengan status perkawinan sebagai determinan yang memiliki hubungan paling kuat. Disimpulkan bahwa perilaku berisiko pada pasien HIV yang menjalani terapi ARV dipengaruhi oleh status perkawinan, tingkat pendidikan, dan pengetahuan.
Copyrights © 2026