Jurnal Ide Bahasa
Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Idebahasa Vol 8 No 1 Juni 2026

REPRESENTASI KEBUTUHAN TOKOH DAN KONFLIK SOSIAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI DAN PELAJARAN MENGARANG: PERSPEKTIF HIERARKI MASLOW

Novriana Anggi Suripadita Sitanggang (Universitas Negeri Medan)
Friscila Margareth Sinaga (Universitas Negeri Medan)
Elizabeth Enzelika Sinaga (Universitas Negeri Medan)
Gisella Dameria Sinulingga (Universitas Negeri Medan)
Yohan Tio Pantaria Sihite (Universitas Negeri Medan)
Christian Sinaga (Universitas Negeri Medan)



Article Info

Publish Date
29 Jun 2026

Abstract

Penelitian ini membandingkan dua cerpen Indonesia, Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis dan Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma, untuk mengungkap persamaan dan perbedaan pengemasan kritik sosial melalui tokoh, konflik, serta alur cerita dengan pendekatan komparatif. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow digunakan menganalisis kondisi psikologis tokoh berdasarkan pemenuhan kebutuhan manusia. Sumber data primer adalah kedua cerpen, didukung teori sastra, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu. Metode penelitian kualitatif deskriptif menerapkan close reading mendalam pada struktur cerita, gaya penceritaan, simbolisme, serta pesan moral. Analisis data melibatkan pendekatan komparatif hierarkis Maslow terhadap lima kebutuhan (fisiologis, keamanan, sosial/cinta, penghargaan, aktualisasi diri) pada tokoh, dikaitkan dengan konflik sosial, tokoh, dan alur. Hasil menunjukkan kedua cerpen menyoroti persoalan sosial secara berbeda: di Robohnya Surau Kami, tokoh kakek dan masyarakat desa memenuhi kebutuhan fisiologis-keamanan dasar, tapi gagal pada sosial/cinta (kurang empati), penghargaan (ritualisme agama kosong), dan aktualisasi diri (tanpa aksi sosial), memicu konflik kemunafikan keagamaan yang merobohkan surau simbolis. Di Pelajaran Mengarang, tokoh anak memenuhi fisiologis minimal (sekolah), tapi gagal total pada keamanan (lingkungan represif), sosial/cinta (kurang kasih sayang), penghargaan (penghinaan kreativitas), dan aktualisasi diri (pertumbuhan terhambat), menghasilkan konflik pendidikan otoriter. Persamaan: tokoh korban situasi sosial tidak berpihak dengan kegagalan kebutuhan Maslow tingkat atas, memperburuk konflik dari konteks agama vs. pendidikan. Perbedaan: fokus ritualisme dewasa vs. represi anak. Secara keseluruhan, keduanya menyuarakan kegelisahan sosial, dan mengajak renungan kemanusiaan melalui sastra.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

Idebahasa

Publisher

Subject

Arts Humanities Languange, Linguistic, Communication & Media

Description

Jurnal of Ide Bahasa (e-ISSN 2685-0559 and p-ISSN 2684-673X) is published twice a year, June and December. Each issue will be published at least 5 articles. Jurnal of Ide Bahasa focuses on language, literature, and language learning with various dimensions of languages all over the world. The ...