This Author published in this journals
All Journal Jurnal Ide Bahasa
Friscila Margareth Sinaga
Universitas Negeri Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REPRESENTASI KEBUTUHAN TOKOH DAN KONFLIK SOSIAL DALAM CERPEN ROBOHNYA SURAU KAMI DAN PELAJARAN MENGARANG: PERSPEKTIF HIERARKI MASLOW Novriana Anggi Suripadita Sitanggang; Friscila Margareth Sinaga; Elizabeth Enzelika Sinaga; Gisella Dameria Sinulingga; Yohan Tio Pantaria Sihite; Christian Sinaga
IdeBahasa Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Idebahasa Vol 8 No 1 Juni 2026
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/idebahasa.v8i1.369

Abstract

Penelitian ini membandingkan dua cerpen Indonesia, Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis dan Pelajaran Mengarang karya Seno Gumira Ajidarma, untuk mengungkap persamaan dan perbedaan pengemasan kritik sosial melalui tokoh, konflik, serta alur cerita dengan pendekatan komparatif. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow digunakan menganalisis kondisi psikologis tokoh berdasarkan pemenuhan kebutuhan manusia. Sumber data primer adalah kedua cerpen, didukung teori sastra, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu. Metode penelitian kualitatif deskriptif menerapkan close reading mendalam pada struktur cerita, gaya penceritaan, simbolisme, serta pesan moral. Analisis data melibatkan pendekatan komparatif hierarkis Maslow terhadap lima kebutuhan (fisiologis, keamanan, sosial/cinta, penghargaan, aktualisasi diri) pada tokoh, dikaitkan dengan konflik sosial, tokoh, dan alur. Hasil menunjukkan kedua cerpen menyoroti persoalan sosial secara berbeda: di Robohnya Surau Kami, tokoh kakek dan masyarakat desa memenuhi kebutuhan fisiologis-keamanan dasar, tapi gagal pada sosial/cinta (kurang empati), penghargaan (ritualisme agama kosong), dan aktualisasi diri (tanpa aksi sosial), memicu konflik kemunafikan keagamaan yang merobohkan surau simbolis. Di Pelajaran Mengarang, tokoh anak memenuhi fisiologis minimal (sekolah), tapi gagal total pada keamanan (lingkungan represif), sosial/cinta (kurang kasih sayang), penghargaan (penghinaan kreativitas), dan aktualisasi diri (pertumbuhan terhambat), menghasilkan konflik pendidikan otoriter. Persamaan: tokoh korban situasi sosial tidak berpihak dengan kegagalan kebutuhan Maslow tingkat atas, memperburuk konflik dari konteks agama vs. pendidikan. Perbedaan: fokus ritualisme dewasa vs. represi anak. Secara keseluruhan, keduanya menyuarakan kegelisahan sosial, dan mengajak renungan kemanusiaan melalui sastra.