Ayam buras memiliki peran krusial dalam sistem peternakan rakyat di Indonesia, termasuk di Kampung Karadiri, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire. Produktivitas ternak ini sangat dipengaruhi oleh sistem pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif perbedaan produktivitas ayam buras yang dipelihara dengan sistem tradisional (umbaran bebas) dan semi intensif (kombinasi kandang dan manajemen pakan/kesehatan). Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling terhadap 60 orang peternak (30 tradisional dan 30 semi intensif). Variabel terukur meliputi frekuensi siklus bertelur per tahun, produksi telur per ekor per tahun, persentase hasil tetas, dan mortalitas. Analisis data menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan dilanjutkan dengan uji Mann–Whitney U Test (α = 5%). Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (p0,05) pada frekuensi siklus bertelur (6,55 vs 3,53 kali/tahun), produksi telur (78,77 vs 38,83 butir/ekor/tahun), dan mortalitas (5,43% vs 10,50%) dengan keunggulan pada sistem semi intensif. Sebaliknya, persentase hasil tetas tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p0,05) antara kedua sistem. Disimpulkan bahwa sistem semi intensif terbukti secara empiris lebih superior dalam meningkatkan produktivitas reproduksi dan kelangsungan hidup ayam buras dibandingkan sistem tradisional.
Copyrights © 2026