Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

UJI KUALITAS DAGING BEBEK YANG BEREDAR DI NABIRE Trijaya Gane Putra
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 1 No 1 (2016): F A P E R T A N A K
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.61 KB)

Abstract

Pangan sangat vital untuk kelangsungan hidup manusia. Sumber pangan bisa berasal dariternak maupun tumbuhan-tumbuhan dan berfungsi sebagai sumber energi, protein, vitamindan mineral. Bahan makanan yang berasal dari ternak, dapat berupa daging, susu dan telur.Kebutuhan pangan asal ternak khususnya daging terus mengalami peningkatan. MenurutStatistik Peternakan (2011) yang dimuat majalah Poultry Indonesia edisi 10 Januari 2013menyampaikan bahwa pada tahun 2010 konsumsi daging sebesar 6,95 kg/kapita/tahun.Dibandingkan dengan target normal gizi yang direkomendasikan Widya Karya Pangan danGizi tahun 2004 sebesar 10,3 kg/kapita per tahun (LIPI, 2004), maka komsumsi daging barumencapai 67,48%.Upaya pemenuhan kebutuhan daging, antara lain dilakukan dengan optimalisasipemanfaatan potensi sumber daya ternak lokal sekaligus penganeka-ragaman berbagai jenisternak penghasil daging, salah satunya adalah bebek/ itik. Baik itik ataupun bebek (sebutanuntuk entog/ itik Manila) keduanya termasuk unggas air, dan keduanya lazim disebut bebek.Daging bebek sekarang sudah mulai dikenal dan digemari masyarakat. Namunpeningkatan produksi daging akan kurang berarti, apabila hasilnya sampai kepada konsumendalam keadaan kurang baik atau rusak, karena daging mempunyai sifat mudah rusak(perishable food).Sebagai daerah pertumbuhan baru di Papua, perkembangan kuliner di Nabire cukuppesat baik jumlah penjajanya maupun jenis menu yang ditawarkan. Salah satu jenis menuyang ditawarkan adalah berbahan daging bebek. Selain untuk penjaja kuliner, daging bebekjuga sudah mulai banyak dibutuhkan untuk konsumsi keluarga. Hasil survey awal diperolehbahwa daging atau karkas bebek yang beredar di Nabire ada yang berasal dari lokal Nabiredan ada yang didatangkan dari luar Nabire yaitu Surabaya.Isu yang sering muncul di media elektronik (televisi) menyebutkan adanyakontaminasi atau pencemaran mikroba, residu obat hewan dan pemakaian bahan pengawettertentu pada pangan atau bahan pangan asal hewan yang merugikan konsumen. Rantaipemasaran yang panjang dan lamanya waktu pengiriman khususnya daging bebek yangdidatangkan dari Surabaya dapat mendorong dilakukannya pengawetan, mengingat produkpeternakan seperti halnya daging merupakan media yang baik untuk pertumbuhan danperkembangan mikroba, baik mikroba yang menyebabkan kerusakan pada dagingnya itusendiri maupun mikroba (pathogen) yang menyebabkan gangguan kesehatan pada manusiayang mengkonsumsinya.Untuk mengetahui sejauh mana kualitas daging bebek baik yang berasal dariSurabaya maupun daging yang berasal dari lokal Nabire yang beredar di Nabire, perludilakukan penelitian terhadap kualitas daging bebek.Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara melakukan pengujian kualitas terhadapsampel daging bebek, baik yang diedarkan oleh agen daging bebek dari Surabaya maupunpemotong/penjual daging bebek lokal Nabire. Sesuai hasil survey jumlah agen yang mendatangkan daging bebek dari Surabaya adalah satu pengusaha yaitu Supermarket Luckydan jumlah penjual daging bebek lokal sebanyak dua orang, masing-masing berjualan dipasar Kalibumi (perempatan Kalibumi) dan di pasar Kalibobo. Dari ketiga pengedar/ penjualtersebut masing-masing diambil satu sampel sehingga jumlah sampel yang diuji kualitanyasebanyak tiga sampel daging bebek, satu sampel daging bebek asal Surabaya dan 2 sampeldaging bebek lokal.Pengujian kulaitas daging bebek dilakukan di Balai Klinik Hewan Dan LaboratoriumTipe B Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua di Jayapura mulai tanggal 20-30 Oktober 2014. Pengujian kualitas terdiri dari dua macam uji, yaitu uji organoleptik yangmeliputi warna, bau dan konsistensi daging dan uji cepat formalin.Hasil uji organoleptik dilaporkan bahwa baik warna, bau maupun konsistensisemuanya dinyatakan normal, sedangkan hasil uji cepat formalin, semua sampel dinyatakannegatif atau bebas formalin, sehingga tiga sampel tersebut dinyatakan aman untukdikonsumsi. Hal ini berarti bahwa daging bebek yang beredar di Kabupaten Nabireberdasarkan hasil penelitian uji kulaitas tersebut dapat dinyatakan memenuhi syarat untukdiperdagangkan karena memenuhi standar kualitas yang memadai sehingga aman untukdikonsumsi.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DAUN PEPAYA (Carica papaya Linn) DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT BADAN AKHIR, BOBOT KARKAS DAN PERSENTASE KARKAS AYAM BROILER Trijaya Gane Putra
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 2 No 2 (2017): Jurnal FAPERTANAK
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.728 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun pepaya (Carica papaya Linn) dalam pakan terhadap bobot badan akhir, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 Juli sampai dengan tanggal 15 Agustus 2016. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah DOC ayam broiler sebanyak 36 ekor, ransum dan tepung daun pepaya. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dimana setiap perlakuan di ulang 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 3 ekor. Perlakuan yang diterapkan adalah penambahan tepung daun papaya dalam pakan dengan level yang berbeda, yaitu P0 (tanpa penambahan tepung daun pepaya, sebagai kontrol), P1 (dengan penambahan tepung daun pepaya 1 %), P2 (dengan penambahan tepung daun pepaya 2 %) dan P3 (dengan penambahan tepung daun pepaya 3 %). Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan tepung daun pepaya secara statistik tidak dapat memberikan pengaruh nyata (P>0,05) meningkatkan bobot badan akhir, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler, namun justru sebaliknya secara numerik semakin tinggi level penambahan tepung daun papaya justru menurunkan bobot badan akhir, bobot karkas, dan persentase karkas.
PENERAPAN BIOSEKURITI PADA PETERNAKAN AYAM BROILER MILIK ORANG ASLI PAPUA (OAP) DI KABUPATEN NABIRE Trijaya Gane Putra
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 2 No 1 (2017): Jurnal Fapertanak
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.392 KB)

Abstract

Biosekuriti adalah suatu langkah manajemen yang harus dilakukan oleh peternak untuk mencegah bibit penyakit masuk ke dalam peternakan dan untuk mencegah penyakit yang ada di peternakan keluar menulari peternakan yang lain atau masyarakat sekitar (Payne et al., 2002). Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahui penerapan biosekuriti pada peternakan ayam boiler milik Orang Asli Papua (OAP) yang ada di Kabupaten Nabire. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsif dengan teknik pengamatan langsung terhadap penerapan biosekuriti pada kedua lokasi peternakan, serta wawancara dengan para peternak yang merupakan Orang Asli Papua (OAP). Dari hasil penelitian ini, diperoleh bahwa total skor dalam penerapan biosekuriti terhadap peternakan ayam pedaging miliki Orang Asli Papua (OAP), adalah 18 dari 23 skor atau 78,26 %. Selain itu, peternak atau peternakan belum memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan hewan khususnya dalam tindakan diagnose terhadap ayam sakit/mati, sehingga ayam sakit/mati tidak diketahui penyebab penyakitnya secara pasti. Selanjutnya, skor terendah dicapai pada aspek biosekuriti terhadap tamu pekerja peternakan, karena adanya perasaan yang tidak lazim dan tidak enak seperti memerintahkan tamu atau pekerja mencuci kaki sebelum masuk ke lokasi peternakan.
PENGARUH PEMBERIAN MATERIL CAIR LIMBAH BIOGAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) Trijaya Gane Putra; Fransisco M Maker
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 5 No 2 (2020): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hijauaan pakan ternak (HPT) memiliki peranan yangat penting dalam produksi ternak, khususnya ternak ruminansia. Kebutuhannya sebagai pakan ternak ruminansia sekitar 73 sampai 94 persen (Aminudin, 1990), sehingga untuk mendukung kelangsungan dan perkembangan produksi ternak ruminansia maka ketersediaan hijauan pakan harus tetap terjaga baik kuantitas, kualitas dan kontinuitasnya. Untuk menjaga ketersediaan hijauan pakan tersebut perlu dilakukan upaya produksi hijauan pakan ternak seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), yang telah banyak ditanam oleh para peternak di Nabire. Produksi tanaman hijauan pakan ternak dipengaruhi oleh tingkat kesuburan tanahnya. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan pemupukan, baik dengan pupuk anorganik (pupuk buatan) maupun pupuk organic seperti pupuk kandang. Salah satu pupuk kandang adalah berupa limbah pembuatan biogas atau limbah biogas. Limbah biogas yang berasal dari kotoran hewan sangat baik untuk dijadikan pupuk karena mengandung berbagai mineral yang dibutuhkan tumbuhan seperti P, Mg, Ca, K, Cu, dan Zn. Limbah biogas telah mengalami fermentasi anaerob sehingga bisa langsung digunakan untuk memupuk tanaman Suzuki et al (2001). Adanya bantuan program prasarana-sarana pertanian (PSP) maupun paket-paket bantuan Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) pada usaha ternak sapi mensyaratkan pemeliharaannya dilakukan secara komunal (dalam satu kandang), sehingga jumlah limbah (kotoran) terkumpul dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk mengefektifkan penggunaan limbah (kotoran), pemerintah menurunkan program biogas sebagai upaya mendukung upaya kemandirian energi. Dengan program biogas ini akan dihasilkan limbah biogas selain biogas (gas bio) sebagai hasil utamanya. Limbah biogas ini berupa lumpur ini disebut sludge. Untuk memudahkan penggunaan sludge sebagai pupuk, maka perlu dipisahkan antara material cair dan material padat dengan cara menyaring atau meniriskannya. Kedua bentuk material ini (cair dan padat) dapat digunakan sebagai pupuk organik. Material cair limbah biogas ini paling mudah dan efektif digunakan sebagai pupuk karena hanya dengan menyiramkannya pada lokasi sekitar tanaman, sebagaimana melakukan penyiraman tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian material cair limbah biogas terhadap pertumbuhan dan produksi rumput gajah (Pennisetum purpureum). Penelitian ini dilaksanakan selama 105 hari (3½ bula) terhitung mulai tanggal bulan 15 Januari sampai denga 30 April 2018, bertempat pada peternakan sapi milik kelompok tani-ternak Simbar Jaya di Kampung Bumi Mulia Distrik Wanggar Kabupaten Nabire. Penelitian dilaksanakan dengan cara eksperimen, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian material cair limbah biogas dosis biogas 0, 25, 35, dan 45 ton/hektar berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap pertambahan tinggi dan produksi hijauan segar dan berbeda nyata (P<0,05) terhadap produksi bahan kering rumput gajah, dan semuanya (pertambahan tinggi, produksi hijauan segar dan produksi bahan kering) kecenderungan kecenderungan yang semakin tinggi seiring meningkatnya dosis pemberian material cair limbahbiogas. Tinggi rendahnya produksi bahan kering sesuai dengan tinggi rendahnya produksi hijauan segar rumput gajah yang dihasilkan.
PENGARUH PEMBERIAN MATERIAL PADAT LIMBAH BIOGAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI RUMPUT GAJAH (Pennisetum purpureum) Trijaya Gane Putra; Fransisco M Maker
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 6 No 1 (2021): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian material padat limbah biogas terhadap pertumbuhan dan produksi rumput gajah (Pennisetum purpureum). Material tersebut digunakan sebagai pupuk dan berasal dari limbah biogas kotoran ternak sapi. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan dosis 0 (P0), 15 (P1), 30 (P2), dan 45 ton/hektar (P3) dan setiap perlakuan dilakukan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian material padat limbah biogas tidak berpengaruh terhadap nyata (P>0,01) terhadap pertambahan tinggi tanaman, produksi hijauan segar maupun produksi bahan kering rumput gajah, namun secara numerik ketiganya (pertambahan tinggi tanaman, produksi hijauan segar maupun produksi bahan kering) menunjukkan kecenderungan yang semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya dosis pemberian material padat limbah biogas.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG SAYUR HITAM (Rungia klosii) DALAM PAKAN TERHADAP BOBOT POTONG, BOBOT KARKAS DAN PERSENTASE BOBOT KARKAS AYAM BROILER Mery Christiana Simanjuntak; Trijaya Gane Putra
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 6 No 1 (2021): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung sayur hitam (Rungia klossii) dalam pakan terhadap bobot potong (bobot badan akhir), bobot karkas dan persentase bobot karkas ayam broiler. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan adalah penambahan tepung sayur hitam yang dicampurkan dalam pakan dengan dosis yang berbeda yaitu P0 dosis 0 atau tanpa penambahan tepung sayur hitam (sebagai kontrol), P1 dosis 1%, P2 dosis 2% dan P3 dosis 3 %. Variabel yang diamati meliputi bobot potong, bobot karkas dan persentase bobot karkas. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam (Anova) dan apabila berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan tepung sayur hitam dalam pakan sampai dengan dosis 3 % tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas ayam broiler umur 5 minggu (35 hari).
STRUKTUR POPULASI DAN NATURAL INCREASE SAPI BALI PADA PETERNAKAN RAKYAT DI KAMPUNG BUMI MULYA DISTRIK WANGGAR KABUPATEN NABIRE Trijaya Gane Putra
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol 7 No 1 (2022): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi Bali merupakan jenis sapi lokal asli Indonesia yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat di Pulau Bali. Populasi sapi Bali yang ada di Kabupaten Nabire merupakan hasil perkembangbiakan sapi introduksi oleh pemerintah, yang sampai tahun 2012 sebanyak 1.900 ekor. Sapi introduksi tersebut hingga tahun 2020 berkembang menjadi 11.481 ekor (BPS Nabire, 2021). Populasi sapi (11.481 ekor) tersebut seluruhnya dikuasai oleh masyarakat petani sebagai usaha peternakan rakyat yang diusahakan secara sambilan dengan skala usaha kecil, umumnya berkisar antara 2 - 4 ekor per petani. Menurut Ismono et al (2015), usaha peternakan sapi rakyat umumnya ditujukan untuk menghasilkan anakan (pedet) atau sebagai usaha pembibitan, dimikian juga yang dilaksnakan oleh peternak sapi di Nabire. Usaha pembibitan sapi rakyat ini memiliki kontribusi mempertahankan kelestarian dan keberadaan populasi sapi tersebut. Untuk mendukung perkembangbiakan dan mempertahankan eksistensi populasi sapi secara berkelanjutan salah satunya ditentukan oleh struktur populasi. Struktur populasi penting diketahui sebagai dasar penentuan kebijakan bagi para stake holder dalam mengatur perkawinan dan manajemen pemeliharaan sehingga tingkat kelahirannya optimal sesuai dengan jumlah sapi betina induk yang ada. Ditetapkannya Nabire sebagai salah satu sumber bibit di Provinsi Papua maka kesinambungan produksi bibit (kelahiran) dan keberlanjutan populasi perlu diperhatikan, yaitu dengan melakukan kontrol terhadap pengeluaran/ penjualan pedet/ sapi bakalan agar tidak terjadi penjualan yang melebihi nilai natural increase (pertambahan populasi alami). Natural increase merupakan selisih antara tingkat kelahiran dan kematian ternak di suatu daerah tertentu dan waktu tertentu yang diukur dalam jangka waktu satu tahun (Sumadi et al., 2001). Namun sampai sejauh ini belum ada data dan informasi tentang struktur populasi maupun natural increase baik secara total dalam satu wilayah kabupaten, per wilayah distrik (kecamatan) maupun per wilayah kampung (desa). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang Struktur Poplasi dan Natural Increase khususnya di daerah sumber bibit, salah satunya di Kampung Bumi Mulya. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan mulai tanggal 01 sampai dengan 31 Juni 2021, dengan lokasi penelitian di Kampung Bumi Mulya, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik wanwancara dan pengamatan langsung terhadap sapi yang dimiliki peternak sampel terpilih. Penetapan jumlah sampel mengikuti metode Slovin (1960) sedangkan penetapan sampel terpilih dilakukan secara simple random sampling. Hasil penelitian diketahui bahwa perbandingan jenis kelamin sapi jantan dan betina pada stiap jenjang status fisiologis pertumbuhan sapi adalah : sapi dewasa 32 : 111 (1♂ : 3,5 ♀), sapi muda 45 : 69 (1♂ : 1,5 ♀) dan pedet (anak sapi) 27 : 40 (1♂ : 1,5 ♀), tingkat kelahiran pedet terhadap jumlah induk 63,06 dan tingkat kelahiran pedet terhadap populasi 21,60 %, tingkat kematian sapi 2,16 % dan natural increase rendah yaitu 19,44 %.
PROSES PEMBUATAN SILASE PENYEDIAAN HIJAUAN PAKAN TERNAK BERKUALITAS DAN KONTINU SEPANJANG TAHUN GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK RUMINANSIA DI NABIRE PAPUA Mery C. Simanjuntak; Trijaya Gane Putra; Wardhana Wahyu Dharsono
Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Development Vol. 3 No. 1 (2023): Indonesian Journal of Engagement, Community Services, Empowerment and Developme
Publisher : Yayasan Education and Social Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53067/ijecsed.v3i1.98

Abstract

Seeing the livestock population in the Nabire district of Papua, it is necessary to prepare the feed properly. Lack of feed during the dry season can be overcome by utilizing the abundance of feed during the rainy season. The strategy is to increase the shelf life of the forage that will be prepared as forage for use in the dry season by preserving the forage. One type of forage preservation is "silage". With the direct practice method of making silage under the guidance of a facilitator from a Lecturer in the Animal Husbandry Study Program, Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, Satya Wiyata Mandala University. Activities are divided into 3 namely Preparation, Work Practice and Closing. From the results of the practice by the participants, it was found that physically (organoleptic) the quality of the silage produced was of relatively good quality because of the smell or aroma, texture, presence of mold and color of the silage as follows: 1. The smell or aroma of the silage smells sweet and sour and is free of bad smell . 2. The texture is crumbly/clear, not mushy, not lumpy and not slimy. 3. Silage is not moldy. 3. The color is greenish (bright) and looks cooked like boiling
STRUKTUR POPULASI DAN TINGKAT KELAHIRAN SAPI BALI DI KAMPUNG WADIO DISTRIK NABIRE BARAT Wakei, Kris; Putra, Trijaya Gane; Dogomo, Emanuel
Jurnal FAPERTANAK : Jurnal Pertanian dan Peternakan Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal FAPERTANAK Jurnal Pertanian dan Peternakan
Publisher : Fakultas Pertanian dan Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sapi Bali merupakan salah satu sumber daya genetik ternak lokal unggul. Keunggulannya antara lain ditunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat, kemampuan adaptasinya dengan lingkungan yang baik dan penampilan reproduksi yang baik. Selain itu sapi Bali memiliki persentase karkas tinggi dibanding jenis sapi lain, yaitu sekitar 56,9% (Fikar dan Ruhyadi, 2010). Keunggulan tersebut menjadi alasan pemerintah untuk menyebarluaskan sapi Bali ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk di Nabire Provinsi Papua Tengah. Pada umumnya peternakan sapi di Nabire merupakan usaha peternakan rakyat, sebagai usaha sambilan dengan kepemilikan 2 - 3 ekor sapi per petani, dan bertujuan menghasilkan bibit atau pedet. Untuk menghasilkan bibit mensyaratkan bahwa sapi, baik sapi jantan dan betina harus memiliki kemampuan untuk melakukan perkembang biakan. Berkembang biak bukan saja sekedar untuk mempertahankan eksistensi di bumi dari kepunahan tetapi bahkan perlu ditingkatkan kelahirannya, karena ternak atau hasil ternak merupakan sumber pangan yang penting untuk asupan gizi manusia. Untuk mendukung perkembang biakan, rasio yang ideal sapi pejantan (pemacek) dan induk sapi betina adalah 1 dibanding 8 atau 10, artinya 1 ekor sapi pejantan pemacek hanya dapat melayani 8 - 10 ekor induk sapi betina, dengan frekwensi memacek (mengawini) 2 kali dalam seminggu (Deptan, 2008). Rasio jumlah jantan dan betina meliputi semua kelompok umur sapi (dewasa, muda dan pedet) dalam suatu wilayah/ kawasan peternakan diistilahkan dengan struktur populasi. Dengan data struktur populasi dapat digunakkan untuk memperkirakan sejauh mana tingkat kelahiran ternak dalam suatu wilayah, yang pada gilirannya juga dapat dijadikan sebagai bahan perencanaan arah kebijakan program pemerintah dalam upaya peningkatan kelahiran untuk peningkatan populasi dalam wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data struktur populasi dan tingkat kelahiran sapi Bali di Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur populasi sapi Bali didominasi oleh sapi betina dengan rasio jantan terhadap betina sebesar 1:2,4 pada kategori dewasa, 1 : 1,7 pada kategori muda dan 1 : 1,5 pada kategori pedet. Tingkat kelahiran pedet terhadap jumlah induk mencapai 92,15%, sedangkan tingkat kelahiran terhadap total populasi sebesar 26,40%. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu adanya optimalisasi manajemen pemeliharaan guna meningkatkan efisiensi produksi sapi Bali di wilayah tersebut.
Telur Asin Sebagai Bahan Pangan Praktis, Enak, Bergizi, Dan Strategis Dalam Pencegahan Stunting Bagi Masyarakat Perdesaan Di Kampung Sanoba Putra, Trijaya Gane; Tumbal, Estepanus L. S; Simanjuntak, Mery C.
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi April - Juni
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i2.6218

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan untuk memberikan solusi terhadap masalah stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Kampung Sanoba. Salah satu penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan gizi yang memadai, terutama di wilayah perdesaan yang aksesnya terbatas terhadap sumber pangan bergizi. Dalam kegiatan ini, dilakukan pelatihan pembuatan telur asin sebagai alternatif pangan bergizi, praktis, dan ekonomis yang dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat. Metode yang digunakan mencakup pendekatan partisipatif melalui pelatihan langsung, pendampingan, dan evaluasi terhadap keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mampu memahami proses produksi telur asin, serta mulai menginisiasi pemanfaatannya sebagai sumber gizi keluarga maupun potensi usaha kecil. Keberhasilan ini ditunjukkan oleh peningkatan pengetahuan gizi dan keterampilan praktis masyarakat. Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya pemanfaatan potensi lokal untuk mendukung ketahanan pangan dan pencegahan stunting. Hasil pengabdian ini memiliki potensi untuk direplikasi di wilayah perdesaan lainnya dengan kondisi serupa. Temuan ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program pemerintah dalam penanggulangan stunting berbasis pemberdayaan masyarakat.