Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wujud serpihan bahasa dalam fenomena campur kode (code-mixing) serta mengungkap alasan atau faktor penyebab terjadinya gejala sosiolinguistik tersebut dalam konteks komunikasi di media sosial. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah konten video podcast pada kanal YouTube Nihongo Mantappu yang berkolaborasi dengan Pandji Pragiwaksono dalam topik bertajuk “Cara Berdamai dengan Kesalahan dan Kritik di Media Sosial”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dibingkai dalam kajian sosiolinguistik. Pengumpulan data menerapkan metode simak dengan teknik dasar Teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), diikuti dengan teknik rekam dan teknik catat. Analisis data dilakukan secara induktif melalui empat tahap, yaitu reduksi data, klasifikasi data, deskripsi dan analisis konteks, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya berbagai wujud campur kode bahasa Inggris ke dalam struktur kalimat bahasa Indonesia yang utuh, yang meliputi tingkat kata, frasa, akronim, hingga hibridisasi morfologis (seperti kata/frasa stand up, milestone, challenge-nya, soundcheck, different skill, FOMO-nya, making some redemption, noise, vent, purpose, content creator, public speaking, hype, deactivate, dan fair-fair aja). Temuan analisis membuktikan bahwa penggunaan variasi bahasa tersebut dipicu oleh faktor sosiolinguistik dan psikolinguistik, meliputi aspek ekonomisasi bahasa, kebutuhan register teknis, penegas wacana (discourse emphatic), metalinguistic awareness, pengaruh antarmuka (interface) teknologi, hingga kebutuhan mengekspresikan konsep abstrak filosofis yang dirasa kurang memiliki kedalaman makna jika menggunakan kosakata lokal harian. Fenomena ini memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika perkembangan bahasa dan pola interaksi multibahasa di era digital saat ini.
Copyrights © 2026