Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi Madura serta mengungkap konstruksi identitas budaya Madura dalam Antologi Puisi Sangkolan karya Sugik Muhammad Sahar melalui pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tiga puisi, yaitu Madura di Linting Tembakau , Madura dalam Dekapan , dan Kidung Rindu Pulau Rantau . Data dikumpulkan melalui teknik baca, simak, dan katat, kemudian dianalisis menggunakan tahapan hermeneutika Paul Ricoeur yang meliputi distansiasi ( distansiasi ), penjelasan ( explanation ), dan apropriasi ( apropriasi ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antologi puisi tersebut merepresentasikan Madura melalui simbol-simbol budaya yang berhubungan dengan kehidupan agraris, maritim, tradisi lokal, religiositas, serta pengalaman perantauan. Simbol tembakau, tanah, hujan, garam, laut, rokat tanah, ibu, takbiran, dan rantau tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga merepresentasikan realitas sosial dan budaya masyarakat Madura yang dibangun melalui bahasa puitik. Berdasarkan proses interpretasi hermeneutik, konstruksi identitas budaya Madura dalam antologi ini terbentuk melalui empat dimensi utama, yaitu identitas agraris, identitas maritim, identitas tradisional-religius, dan identitas perantauan yang saling berkaitan dalam membangun memori masyarakat kolektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Sangkolan tidak hanya menjadi media ekspresi sastra, tetapi juga menjadi ruang representasi budaya yang merekam pengalaman, nilai, dan identitas masyarakat Madura secara simbolik sehingga menampilkan keterkaitan antara teks sastra dan kehidupan sosial budaya yang melahirkannya.
Copyrights © 2026