Madiun merupakan sebuah wilayah di bagian timur Pulau Jawa, berdiri sekitar 458 tahun lalu dengan nama Purabaya, dan beberapa kali mengalami pergantian fase kerajaan Islam, di antaranya Demak, Pajang, dan Mataram. Selanjutnya beralih ke tangan Pemerintah Hindia Belanda dengan berbagai dinamika politik, hingga puncaknya terpisah menjadi dua pemerintahan, yaitu Kabupaten Madiun dan Kota Madiun. Di sisi lain, kegiatan ziarah ke makam para leluhur sebagai tradisi keagamaan yang diajarkan oleh orang-orang zaman dulu, begitu mengakar kuat di kalangan masyarakat muslim Madiun tak terkecuali pejabat pemerintahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana peran pejabat muslim di Madiun dalam melestarikan tradisi ziarah ke makam para leluhur yang mempunyai andil dalam membangun Madiun pada masa lampau. Metode yang digunakan adalah sejarah, adapun tahapannya terdiri atas heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi (penafsiran), dan penulisan. Berikutnya pendekatan sosiologi agama untuk menganalisis hubungan antara agama dengan pejabat pemerintah, serta diperkuat teori peranan sosial oleh Erving Goofman untuk menjelaskan peran pejabat pemerintah di Madiun dalam mengajak masyarakatnyaa agar ikut melestarikan tradisi ziarah ke makam para leluhur. Selain itu, teori tindakan sosial oleh Max Weber untuk menguraikan beberapa temuan mengenai tujuan melakukan ziarah, seperti mengenang jasa para pemimpin sebelumnya yang telah mengabdi untuk kemakmuran masyarakat Madiun, serta memohon doa restu agar diberi kelancaran selama mengemban tugas di pemerintahan.
Copyrights © 2026