Persistensi menjadi penyakit gigi yang sebagian besar dihadapi oleh warga Indonesia, utamanya anak-anak berusia 6-12 tahun. Dikarenakan pada usia ini terjadi masa transisi dari gigi susu ke gigi tetap yang sering disebut dengan masa gigi bercampur. Melihat tingginya angka penyakit gigi dan mulut yang salah satunya dipengaruhi oleh faktor perilaku orang tua yang mempunyai peran terhadap pertumbuhan gigi anak khususnya pada periode gigi bercampur yang berdampak pada terjadinya kasus persistensi. Hasil pemeriksaan awal yang peneliti lakukan dari 10 anak di Desa Panton Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara terdapat 9 orang anak mengalami persistensi gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dengan persistensi pada anak di Desa Panton Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini bersifat analitik dengan dengan desain cross sectional. Dan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anak dan ibu yang berada di Desa Panton Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara berjumlah 40 orang dengan teknik Purposive Sampling. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 06 s/d 13 Mei 2025 dan analisa data menggunakan uji statistic yaitu uji Chi-square dengan mengunakan program SPSS. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku ibu pada kategori baik dengan tidak memiliki persistensi gigi pada anak yaitu 10 orang (25%) dan perilaku ibu pada kategori kurang baik memiliki adanya persistensi yaitu 19 orang (47%) dari hasil uji statistik chi-square diperoleh nilai sebesar p= 0,00 (p< 0,05), dimana terdapat hubungan perilaku ibu dengan persistensi pada anak. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa ada hubungan perilaku ibu dengan persistensi pada anak. Dan disarankan kepada ibu murid agar dapat meningkatkan perilaku yang meliputi pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang persistensi gigi dengan memperbanyak informasi kesehatan gigi dan mulut anak terutama masa pertumbuhan dan perkembangan gigi serta usia masa gigi bercampur.
Copyrights © 2025