Tuberkulosis (TB) diseminata merupakan bentuk TB berat yang melibatkan dua atau lebih organ akibat penyebaran limfohematogen Mycobacterium tuberculosis. Meskipun hanya mencakup sekitar 2% dari seluruh kasus TB, kondisi ini memiliki tingkat mortalitas yang tinggi dan sering kali sulit didiagnosis karena gejala klinis yang tidak spesifik. Malnutrisi menjadi salah satu faktor risiko utama yang memfasilitasi perkembangan infeksi sistemik ini. Seorang perempuan berusia 24 tahun non-HIV datang dengan keluhan demam kronis dan penurunan berat badan drastis disertai benjolan pada leher. Pasien tidak memiliki keluhan batuk maupun sesak napas. Hasil pemeriksaan menunjukkan malnutrisi, biopsi kelenjar getah bening berupa limfadenitis granulomatosa supuratif, dan USG abdomen menunjukkan splenomegali dengan multipel nodul. Hasil foto toraks pasien menunjukkan paru normal. Pasien didiagnosis dengan TB diseminata dan malnutrisi, kemudian diberikan Obat Antituberkulosis (OAT) standar serta dukungan nutrisi yang adekuat. Setelah enam bulan pengobatan, pasien menunjukkan pemulihan klinis yang signifikan yang ditandai dengan hilangnya benjolan leher, peningkatan berat badan, serta perbaikan pada hasil USG abdomen. Kasus ini menegaskan bahwa TB diseminata dapat terjadi pada pasien non-HIV dengan foto toraks normal. Indeks kecurigaan klinis yang tinggi, diagnosis dini melalui biopsi, serta integrasi antara terapi OAT dan dukungan nutrisi merupakan hal yang penting.
Copyrights © 2026