Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan tinggi, termasuk dalam proses penyusunan skripsi mahasiswa tingkat akhir di Universitas Aufa Royhan. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah Chat Generative Pre-trained Transformer (ChatGPT). Platform ini memungkinkan mahasiswa untuk berinteraksi dengan menjawab pertanyaan, serta membantu dalam proses penulisan tugas akhir. Bagi mahasiswa, ChatGPT kini menjadi salah satu alat yang paling sering dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan menulis skripsi, mulai dari mencari referensi, merangkum, hingga menyusun ide. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi digital dengan efektivitas dan etika pemanfaatan ChatGPT sebagai instrumen pendukung riset kesehatan pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Aufa Royhan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling dari populasi mahasiswa tingkat akhir. Sebanyak 31 mahasiswa semester 7 Program Studi Kebidanan menjadi responden penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner digital yang mengukur tingkat literasi digital (Variabel X) dan efektivitas penggunaan Chat GPT untuk riset (Variabel Y). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Penelitian menunjukkan mayoritas responden sebanyak 25 (80,65%) telah menggunakan ChatGPT dalam penyusunan skripsi dengan durasi penggunaan diatas 6 bulan. Hasil uji bivariat membuktikan pemanfaatan ChatGPT berkorelasi signifikan dengan peningkatan kepercayaan diri mahasiswa (p=0,0004) dan reduksi stres akademik (p=0,0061) melalui efisiensi waktu. Meskipun mahasiswa memiliki literasi digital yang cukup dengan mengutamakan sinergi AI, jurnal, dan dosen, sebanyak 21 responden (67,74%) menyatakan perlunya pelatihan etis institusional untuk menjaga akurasi dan integritas riset kesehatan. Terdapat hubungan positif antara literasi digital dengan pemanfaatan ChatGPT. Peningkatan literasi digital di lingkungan kampus sangat krusial untuk memastikan AI digunakan sebagai alat bantu pendukung, bukan pengganti proses berpikir kritis dalam riset kesehatan.
Copyrights © 2026