Iklan Prenagen “Siapa Takut Jadi Ibu” mengusung kampanye ajakan pada perempuan terutama calon ibu untuk percaya diri dan melawan rasa cemas saat masa kehamilan dan persiapan menjadi ibu. Prenagen menggunakan kalimat “Siapa Takut” untuk menantang stigma bahwa menjadi ibu membuat hidup perempuan berubah tidak seru, tidak bahagia, rumit dan membatasi kebebasan. Masalahnya, iklan ini seolah menjadi solusi dan ajakan pada perempuan modern sebagai calon ibu untuk percaya diri, padahal iklan ini mengkomodifikasi kecemasan dan ketakutan dalam logika bisnis yaitu agar produknya dibutuhkan. Alih-alih mengusung pemberdayaan perempuan, iklan ini melanggengkan logika patriarki terkait peran ibu yang ideal dalam masyarakat, bahwa ibu bertanggungjawab atas kehamilan, kesehatan anak, keberhasilan memiliki keturunan dan penjaga moral keluarga. Penelitian ini bertujuan membongkar pemaknaan khalayak yaitu perempuan perempuan sebagai calon ibu maupun perempuan yang sudah menjadi ibu dengan kode dominan atau prefereed reading yaitu kecemasan menjadi ibu dan persiapan dalam menjalankan peran sebagai ibu. Metode analisis menggunakan resepsi khalayak Stuart Hall dengan melibatkan lima informan yang terdiri dari perempuan yang belum menikah, dua perempuan yang sedang hamil namun salah satunya sudah bercerai, serta perempuan yang sudah memiliki anak. Hasil penelitian menunjukan empat informan berada dalam posisi negotiated yang bernegosiasi atas kode dominan iklan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, pendidikan, praktek dalam rumah tangga dan latar belakang yang bervariasi sehingga pesan dimaknai secara berbeda oleh masing-masing informan. Hanya ada 1 informan yang berada di posisi oposittional yang menerima pesan teks dalam iklan.
Copyrights © 2026