Pengembangan model penelusuran informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan pada cara penelusuran literatur akademik dilakukan, khususnya dalam penyajian respons yang disertai dengan kutipan yang dihasilkan dan terstruktur secara otomatis. Transformasi ini tidak hanya mempercepat proses penelusuran informasi tetapi juga memengaruhi perilaku akademik dalam memanfaatkan referensi ilmiah. Meskipun demikian, akurasi, konsistensi, dan keterlacakan referensi yang dihasilkan tetap menjadi isu kritis dalam konteks integritas akademik. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan tingkat akurasi kutipan di ChatGPT yang dikembangkan oleh OpenAI, serta Perplexity AI dan DeepSeek. Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode evaluatif digunakan dengan menggunakan recall kutipan sebagai indikator kelengkapan dan akurasi kutipan. Sepuluh pertanyaan akademik diajukan ke setiap platform, menghasilkan 54 klaim ilmiah yang membutuhkan referensi pendukung. Semua kutipan kemudian diverifikasi melalui basis data akademik untuk memastikan validitas dan relevansinya dengan klaim yang dinyatakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perplexity mencapai skor recall sitasi tertinggi sebesar 68,52% dan dikategorikan sebagai akurat, diikuti oleh ChatGPT dengan 62,96% dalam kategori cukup akurat, dan DeepSeek dengan 46,30%, juga diklasifikasikan sebagai cukup akurat. Meskipun ketiga model tersebut mampu memberikan referensi dalam respons mereka, beberapa inkonsistensi, sumber yang tidak dapat diverifikasi, dan contoh sitasi berlebihan teridentifikasi. Oleh karena itu, AI berfungsi sebagai alat pendukung dalam penelusuran informasi akademik; namun, verifikasi manual tetap penting untuk memastikan integritas akademik, keandalan, dan kredibilitas ilmiah.
Copyrights © 2026