Kehidupan masyarakat telah berubah secara signifikan akibat kemajuan teknologi digital, termasuk dalam hal pelestarian nilai-nilai budaya daerah. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), sebuah filosofi yang memandang adat sebagai sesuatu yang berakar pada ajaran Islam, merupakan salah satu unsur budaya yang membentuk identitas masyarakat Minangkabau. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki keberadaan ABS-SBK di era digital, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi Generasi Z Minangkabau dalam menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, serta mengeksplorasi cara-cara untuk memperkuatnya di tengah kemajuan teknologi. Penelitian ini menggunakan penelitian pustaka dan metodologi kualitatif. Data dikumpulkan dari sumber-sumber literer seperti buku, jurnal ilmiah, esai, dan publikasi akademis yang relevan dengan topik penelitian. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk menganalisis data pada seluruh tahap pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan temuan penelitian, masyarakat Minangkabau tetap hidup sesuai dengan prinsip-prinsip ABS-SBK, namun mereka menghadapi sejumlah kesulitan akibat globalisasi, perkembangan media digital, serta perubahan dalam pola interaksi sosial, serta menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal. Namun, era digital juga membuka peluang bagi pelestarian budaya melalui penggunaan media sosial, digitalisasi budaya, komunitas daring, pengintegrasian nilai-nilai budaya ke dalam pendidikan, komunitas digital, dan digitalisasi budaya. Untuk memperkuat penerapan prinsip-prinsip ABS-SBK serta memastikan relevansi dan keberlanjutannya di era digital, keluarga, lembaga pendidikan, pemimpin adat, pemimpin agama, pemerintah, dan generasi muda harus bekerja sama.
Copyrights © 2026