Penelitian ini berangkat dari problem pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an tentang bumi dan kosmos yang kerap ditarik ke dalam kerangka kosmologi modern melalui pendekatan tafsir ‘ilmi. Pemaksaan paradigma sains modern tersebut sering melahirkan pembacaan spekulatif yang menjauh dari makna bahasa Arab dan tradisi tafsir klasik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan kembali bahasa arab yang menjadi medium Al-Qur’an sebagai pembentuk cara pandang manusia terhadap bumi dan alam semesta dalam kerangka fenomenologis dan fungsional, yaitu gambaran nyata kosmik sebagaiamana dirasakan dan dimanfaatkan oleh makhluk. Dengan pendekatan tafsir tematik berbasis analisis kebahasaan dan penelusuran penafsiran mufassir klasik, kajian ini menelaah lafazh-lafazh tentang bumi (seperti farasy, bisath, mihad, madda, qarar, sutihat, dan manakib, serta relasinya dengan bina’ dan aqtar), dan ayat-ayat tentang ruang alam semesta seperti Ayat Kursi, Ali ‘Imran: 133, dan Ar-Rahman: 33. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah-istilah tersebut secara konsisten dipahami sebagai deskripsi alam semesta sebagaimana dialami dan dihuni manusia, bukan sebagai pernyataan tentang bentuk geometris atau struktur fisik kosmos sebagaimana klaim tafsir sains kontemporer. Ayat-ayat tentang keluasan langit dan bumi juga berfungsi teologis-pedagogis untuk menanamkan kesadaran akan kebesaran Allah dan keterbatasan makhluk. Sehingga problem utama diskursus modern terletak pada pendekatan epistemologis yang melatarbelakangi para pembaca kontemporer.
Copyrights © 2026