Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi masalah lingkungan penting di Palangka Raya karena menghasilkan asap yang dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada balita. Hotspot digunakan sebagai indikator awal potensi kebakaran, sedangkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menggambarkan tingkat pencemaran udara ambien. Studi ini menganalisis hubungan antara rata-rata hotspot tahunan, ISPU, dan insiden pneumonia balita di Kota Palangka Raya tahun 2016-2025. Studi kuantitatif analitik ini menggunakan desain potong lintang berbasis deret waktu dengan data sekunder agregat tahunan. Data meliputi rata-rata hotspot, rata-rata ISPU, jumlah kasus pneumonia balita, populasi balita, dan insiden pneumonia per 1.000 balita. Analisis dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 0,05. Selama 10 tahun pengamatan, rerata hotspot ialah 142,888 titik/tahun, rerata ISPU 67,884, rerata kasus pneumonia 1.263 kasus/tahun, dan rerata insiden pneumonia 39,29 per 1.000 balita. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif sangat kuat antara hotspot dan ISPU (rho=0,927; p<0,001; IK95% 0,704-0,984), serta antara ISPU dan insiden pneumonia (rho=0,927; p<0,001; IK95% 0,704-0,984). Hubungan langsung hotspot dan insiden pneumonia juga positif kuat (rho=0,830; p=0,003). Peningkatan hotspot berkorelasi dengan peningkatan ISPU, dan kualitas udara yang memburuk berkorelasi dengan peningkatan insiden pneumonia balita. Temuan ini mendukung pentingnya sistem peringatan dini berbasis hotspot dan ISPU untuk perlindungan kesehatan anak.
Copyrights © 2026