Clement Drew
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Dampak kejadian hotspot kebakaran hutan terhadap insiden pneumonia pada balita di Palangka Raya tahun 2016-2025 Adithya Septyadi Pratama; Clement Drew; Wiyarni Pambudi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.37832

Abstract

Kebakaran hutan dan lahan masih menjadi masalah lingkungan penting di Palangka Raya karena menghasilkan asap yang dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada balita. Hotspot digunakan sebagai indikator awal potensi kebakaran, sedangkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menggambarkan tingkat pencemaran udara ambien. Studi ini menganalisis hubungan antara rata-rata hotspot tahunan, ISPU, dan insiden pneumonia balita di Kota Palangka Raya tahun 2016-2025. Studi kuantitatif analitik ini menggunakan desain potong lintang berbasis deret waktu dengan data sekunder agregat tahunan. Data meliputi rata-rata hotspot, rata-rata ISPU, jumlah kasus pneumonia balita, populasi balita, dan insiden pneumonia per 1.000 balita. Analisis dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan 0,05. Selama 10 tahun pengamatan, rerata hotspot ialah 142,888 titik/tahun, rerata ISPU 67,884, rerata kasus pneumonia 1.263 kasus/tahun, dan rerata insiden pneumonia 39,29 per 1.000 balita. Korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif sangat kuat antara hotspot dan ISPU (rho=0,927; p<0,001; IK95% 0,704-0,984), serta antara ISPU dan insiden pneumonia (rho=0,927; p<0,001; IK95% 0,704-0,984). Hubungan langsung hotspot dan insiden pneumonia juga positif kuat (rho=0,830; p=0,003). Peningkatan hotspot berkorelasi dengan peningkatan ISPU, dan kualitas udara yang memburuk berkorelasi dengan peningkatan insiden pneumonia balita. Temuan ini mendukung pentingnya sistem peringatan dini berbasis hotspot dan ISPU untuk perlindungan kesehatan anak.
Hubungan dukungan keluarga dan faktor-faktor yang berperan dalam kepatuhan minum obat antihipertensi di Puskesmas Karangrejo Hosana Elva Musti Karini; Clement Drew
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.37837

Abstract

Kepatuhan minum obat merupakan salah satu faktor penting dalam pengendalian hipertensi dan pencegahan komplikasi. Dukungan keluarga diyakini berperan dalam meningkatkan kepatuhan pasien, meskipun pengaruhnya masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga serta faktor-faktor lain yang memengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Karangrejo. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang yang melibatkan 149 pasien hipertensi. Dukungan keluarga diukur menggunakan kuesioner yang terdiri atas 16 pertanyaan, sedangkan kepatuhan minum obat dinilai menggunakan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi logistik multivariat. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dengan kekuatan lemah antara skor dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat (r = 0,369; p < 0,001). Namun, analisis regresi logistik menunjukkan bahwa dukungan keluarga tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan minum obat (p >0,05). Faktor lain yang dianalisis, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan lama riwayat hipertensi, juga tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik terhadap kepatuhan minum obat (p >0,05). Dukungan keluarga memiliki korelasi positif lemah dengan kepatuhan minum obat, tetapi tidak merupakan faktor yang berhubungan secara independen setelah dikontrol bersama variabel lain. Upaya skrining dan pemantauan pasien hipertensi yang tidak melakukan kontrol rutin tetap diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mencegah komplikasi hipertensi.
PERAN SLEEP HYGIENE TERHADAP KEJADIAN AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA Brenda Putri Yovitasari; Clement Drew
Ebers Papyrus Vol. 31 No. 2 (2025): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/nb8hvx69

Abstract

Akne vulgaris merupakan kelainan kulit yang umum pada remaja hingga dewasa muda. Kondisi ini bersifat multifaktorial, dipengaruhi faktor genetik, hormonal, diet, stres, serta kebiasaan gaya hidup. Salah satu aspek gaya hidup yang diduga berperan adalah sleep hygiene, yaitu kualitas dan kebiasaan tidur. Namun, studi yang mengkaji hubungan sleep hygiene dengan akne vulgaris masih terbatas. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sleep hygiene terhadap akne vulgaris pada mahasiswa kedokteran. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang, melibatkan 179 mahasiswa kedokteran. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Sleep Hygiene Index yang dimodifikasi dan pertanyaan mengenai karakteristik akne. Analisis dilakukan dengan uji chi-square dan perhitungan prevalence rate ratio (PRR). Sebanyak 4,5% responden memiliki sleep hygiene buruk. Sebagian besar mengalami komedo (80,4%), akne meradang (37,4%), nyeri akne (32,4%), serta durasi akne > 2 minggu (25,1%). Ditemukan hubungan signifikan antara sleep hygiene dengan nyeri akne (p < 0,05) dan durasi > 2 minggu (p < 0,05), namun tidak signifikan terhadap kejadian akne dan komedo (p > 0,05). Analisis PRR menunjukkan bahwa responden dengan sleep hygiene buruk memiliki risiko 1,824 kali lebih tinggi mengalami akne dibandingkan responden dengan sleep hygiene baik. Sleep hygiene berkorelasi dengan tingkat keparahan akne vulgaris, terutama terhadap nyeri dan durasi lesi, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah atau jenis lesi.