Penelitian ini mengeksplorasi integrasi nilai-nilai spiritualitas Islam sebagai strategi preventif terhadap peningkatan fenomena gangguan kesehatan mental di kalangan siswa, seperti depresi dan kecemasan, yang meningkat signifikan pasca-pandemi. Tujuan utama kajian ini adalah merumuskan model pendidikan spiritual yang holistik melalui sintesis riset kepustakaan (library research). Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis data melalui studi dokumentasi terhadap sumber primer seperti Al-Qur’an, Hadis, dan karya klasik ulama (Imam Al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah), serta sumber sekunder berupa jurnal ilmiah dan laporan kesehatan mental global (WHO). Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep tazkiyatun nafs (pemurnian jiwa) dan penguatan tauhid berfungsi sebagai benteng psikologis yang efektif dalam meningkatkan ketahanan (resilience) siswa. Praktik spiritual seperti dzikir dan shalat secara empiris berkorelasi dengan aktivitas korteks prefrontal dan penurunan hormon kortisol sebesar 25%. Kajian ini menyimpulkan bahwa pendidikan spiritual Islam menawarkan solusi endogen yang berkelanjutan untuk membentuk qalb salim (hati yang sehat) pada siswa, melampaui pendekatan koping kognitif sekuler dalam menghadapi tantangan era digital. Model ini berpotensi menjadi rekomendasi dalam pengembangan kurikulum pendidikan karakter yang menyentuh dimensi jasad, jiwa, dan ruh secara seimbang. The integration of Islamic spiritual principles as a preventive measure against the growth in mental health problems among students, such as anxiety and depression, which have dramatically grown in the post-pandemic period, is the subject of this study. This study's main goal is to synthesize library research in order to create a comprehensive model of spiritual education. The methodology used is a qualitative approach with data analysis through a documentary study of secondary sources like scientific journals and global mental health reports (WHO) and primary sources like the Qur'an, Hadith, and classical works by Islamic scholars (Imam Al-Ghazali and Ibn Qayyim al-Jauziyyah). The results show that the ideas of tawhid strengthening and tazkiyatun nafs (purification of the soul) are useful psychological defenses in building students' resilience. There is empirical evidence linking spiritual acts like prayer and dhikr to a 25% decrease in cortisol levels and prefrontal cortex activity. This study suggests that Islamic spiritual education outperforms secular cognitive coping strategies in tackling the problems of the digital era by providing a lasting endogenous solution for cultivating a "qalb salim" (healthy heart) in students. The creation of a character education program that balances the physical, psychological, and spiritual aspects could be guided by this paradigm.
Copyrights © 2026