Perkembangan kecerdasan buatan berbasis model bahasa menghadirkan bentuk baru dalam praktik komunikasi manusia. Salah satu fenomena yang muncul pada akun X @tanyakanrl adalah kecenderungan Generasi Z menggunakan ChatGPT sebagai ruang untuk self-disclosure atau pengungkapan diri dalam konteks mencurahkan masalah pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut dalam perspektif Human-Machine Communication (HMC), serta aspek yang tidak didapat saat curhat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan enam informan Generasi Z yang menggunakan ChatGPT sebagai tempat berbagi masalah pribadi, serta literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dimensi fungsional ChatGPT dipersepsikan sebagai penerima cerita, pemberi validasi, dan pemberi perspektif terhadap masalah pengguna. Pada dimensi relasional, interaksi dengan ChatGPT membentuk pengalaman komunikasi yang personal dan suportif, meskipun hubungan yang terjalin tetap terbatas. Sementara itu, pada dimensi metafisik, pengguna memaknai AI secara ambigu, antara sebagai komunikator maupun sekadar instrumen. Generasi Z memilih curhat kepada ChatGPT karena dianggap aman, tidak menghakimi, dan responsif untuk membahas persoalan personal. Namun, pengguna tetap merasakan keterbatasan AI terkait empati autentik, kehangatan emosional, dan kehadiran fisik. Dalam perspektif Islam, komunikasi yang ideal tidak hanya berupa pertukaran pesan, tetapi juga membangun hubungan yang mengandung nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Copyrights © 2026