Kebijakan quality tourism Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Prioritas (DPSP) nasional telah menghasilkan lonjakan kunjungan wisatawan 149% pada 2023 (423.847 kunjungan, melampaui target 63%). Namun pertumbuhan kuantitatif ini diiringi paradoks: economic leakage mencapai 40–60%, tekanan ekologis TN Komodo melampaui carrying capacity 37%, dan erosi social capital masyarakat lokal yang ditunjukkan oleh gentrifikasi, marginalisasi komunitas adat Manggarai, dan fragmentasi kearifan lokal. Artikel ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kebijakan quality tourism Labuan Bajo dari perspektif social capital dengan mengintegrasikan tiga dimensi: ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Menggunakan pendekatan studi evaluasi kebijakan publik berbasis data sekunder, analisis menggabungkan kerangka Dunn (2018), teori social capital Putnam–Coleman–Bourdieu, dan Tourism Area Life Cycle Butler (1980). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kebijakan saat ini efektif secara kuantitatif, namun lemah pada dimensi pemerataan dan kecukupan ekologis Studi merekomendasikan Skenario Hybrid berbasis Social Capital dengan lima paket aksi: regulasi carrying capacity TNK berbasis kearifan lokal, program linkage UMKM-hotel, reformasi tata kelola BPOLBF yang inklusif, diversifikasi Koridor Flores berbasis CBT, dan penguatan SDM lokal dengan target economic leakage di bawah 30% dan ALOS 5 malam pada 2030.
Copyrights © 2026