Penelitian ini mengkaji penggunaan tasybih (perumpamaan) dalam Surah Al-Waqi'ah sebagai salah satu perangkat retoris yang paling penting dalam ilmu bayan Al-Qur’an. Keunggulan sastra Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kandungan teologisnya, tetapi juga pada penggunaan bahasa figuratif yang sangat kaya, khususnya tasybih, yang berfungsi sebagai instrumen semantik untuk menyampaikan realitas abstrak melalui gambaran yang konkret. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dan jenis-jenis tasybih dalam empat ayat pilihan Surah Al-Waqi'ah (ayat 23, 54, 58–59, dan 65) serta mengkaji implikasinya terhadap penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi kepustakaan yang bersumber dari karya-karya balaghah klasik seperti Jawahir al-Balaghah dan Al-Idah fi 'Ulum al-Balaghah, serta referensi tafsir utama seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, dan Tafsir Al-Misbah. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat jenis tasybih yang berbeda, yaitu: tasybih mursal mufashal pada ayat 23 (bidadari diumpamakan seperti mutiara yang tersimpan), tasybih mursal mufashal tamtsil pada ayat 54 (penghuni neraka diumpamakan seperti unta yang mengidap penyakit haus yang tidak pernah terpuaskan), tasybih baligh tamsili idmari pada ayat 58–59 (ketidakberdayaan manusia yang diungkapkan melalui pertanyaan retoris), dan tasybih mursal mufashal tamtsil pada ayat 65 (tanaman yang subur diumpamakan seperti jerami yang hancur). Setiap bentuk tasybih berfungsi sebagai tawdhih (penjelasan), taqrir (penegasan), dan tashwir (penggambaran yang hidup), sehingga memperdalam pemahaman terhadap makna ayat secara signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa analisis tasybih merupakan unsur yang sangat penting untuk memahami makna Al-Qur’an secara komprehensif dan menjadi salah satu dimensi utama kemukjizatan retorisnya (i'jaz balaghiy).
Copyrights © 2026