Artikel ini mengkaji bagaimana perempuan membangun dan menegosiasikan identitasnya dalam ruang digital melalui media sosial. Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang representasi diri yang kompleks. Dengan menggunakan perspektif teori performativitas gender, tulisan ini menyoroti bagaimana identitas perempuan tidak bersifat tetap, melainkan terus diproduksi dan direproduksi melalui praktik sehari-hari di platform digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis konten terhadap unggahan media sosial serta studi literatur terkait gender dan media digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa perempuan berada dalam posisi ambivalen: di satu sisi memiliki agensi untuk mengekspresikan diri, namun di sisi lain tetap terikat pada norma sosial, standar kecantikan, dan tekanan algoritmik yang membentuk cara mereka menampilkan diri. Media sosial dengan demikian menjadi arena tarik-menarik antara kebebasan ekspresi dan reproduksi struktur patriarki. Artikel ini menyimpulkan bahwa identitas perempuan di ruang digital merupakan hasil dari proses negosiasi yang dinamis antara subjektivitas individu dan kekuatan sosial yang lebih luas.
Copyrights © 2026