Representasi penindasan gender dalam film kontemporer sering kali masih dipengaruhi oleh bias patriarki dan dominasi moralitas keagamaan yang tidak seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana relasi kuasa atas perempuan ini bekerja dalam film Tuhan Izinkan Aku Berdosa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Michel Foucault untuk menganalisis berbagai adegan, dialog, serta interaksi visual yang terdapat dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penindasan gender berlangsung secara sistematis melalui tiga mekanisme utama, yaitu penggunaan wacana keagamaan sebagai instrumen power/knowledge yang mengendalikan kesadaran, praktik eksklusi dan pembungkaman terhadap korban melalui media sosial yang berfungsi sebagai pengawas digital massal (panopticon), serta pengendalian fisik dan emosional melalui biopower. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekuasaan patriarki telah menyebar secara luas dan bekerja secara fleksibel di media sosial. Namun, kekuasaan tersebut tidak bersifat tetap karena dapat memunculkan perlawanan dari karakter perempuan untuk merebut kembali otonomi atas dirinya. Temuan ini memberikan kontribusi bagi kajian gender dan media dengan menunjukkan bahwa perempuan merupakan individu yang aktif dan mempunyai peran strategis, bukan hanya sebagai pihak yang lemah dan berada dalam posisi subordinat.
Copyrights © 2026