Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai estetika flare (suar lensa) dalam praktik fotografi kontemporer melalui pendekatan fenomenologi. Dalam pandangan konvensional, flare sering diposisikan sebagai cacat optik yang harus dihindari. Namun, kajian ini menunjukkan bahwa anomali cahaya tersebut telah diadaptasi menjadi elemen visual yang sengaja dimanfaatkan untuk membangun pengalaman estetika dan makna subjektif. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan Analisis Fenomenologis Interpretatif (AFI) terhadap sumber kepustakaan serta karya fotografi kontemporer. Hasil analisis memperlihatkan bahwa flare hadir sebagai penanda kehadiran fisik manusia yang mengalami di balik penciptaan citra. Fenomena ini mengaktifkan pengalaman indrawi visual dan berfungsi sebagai penanda waktu, sehingga mampu mengembalikan sensasi murni/asli ke dalam sebuah citra. Pada tataran estetika postmodern, pemanfaatan flare mewakili praktik estetika ketidaksempurnaan (aesthetics of imperfection / aesthetic of failure) yang melawan tuntutan kesempurnaan teknis, dan kerap bertindak sebagai simulacrum dalam ekosistem digital. Selain itu, flare berperan sebagai perangkat naratif yang menandai situasi liminal untuk memicu kedalaman emosional. Temuan terpenting dari kajian ini adalah penjelasan bagaimana flare secara paradoks mampu merekonstruksi "aura" pada citra yang diproduksi secara mekanis. Sebagai kesimpulan, flare bukan sekadar sisa cacat teknis, melainkan entitas yang memperkaya wacana keilmuan fotografi, khususnya terkait cara kita memahami persepsi dan representasi medium.
Copyrights © 2026