Syaifudin Syaifudin
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSPLORASI PENATAAN MAKANAN GAYA RUSTIK ORIENTAL UNTUK PEMASARAN JAJANAN PANGSIT MELALUI FOTO INSTAGRAM Firoos Agung Winahyu Wibowo; Oscar Samaratungga; Syaifudin Syaifudin
Specta: Journal of Photography, Arts, and Media Vol 7, No 1 (2023): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v7i1.9207

Abstract

Perkembangan teknologi informasi membuat pengguna sosial media Instagram semakin pesat. Konten fotografi merupakan hal yang sangat penting dalam penyampaian informasi ataupun hiburan melalui sosial media Instagram. Konten fotografi juga sering digunakan sebagai media periklanan dalam membantu penjualan suatu produk melalui Instagram. Hal yang menjadi unsur penting dalam membuat visual yang menarik harus mengandung unsur artistik dan informatif. Foto produk yang informatif membutuhkan pemilihan, penataan, penyusunan makanan, properti, dan latar yang menarik. Karya foto yang diciptakan pada penelitian ini merupakan jenis karya fotografi makanan. La-Hap Dumpling adalah produk yang akan digunakan sebagai objek penciptaan dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan dalam penciptaan karya ini melalui beberapa tahapan yaitu ide dan konsep perancangan, perencanaan, produksi/pemotretan, penyuntingan, dan penyajian. Melalui penerapan teknik-teknik fotografi makanan karya-karya penelitian ini dapat menghasilkan visual yang menarik dan informatif dengan konsep pengarahan gaya penggabungan antara rustik, oriental mandarin, dan modern.Exploration of Oriental Rustic Style Food Plating as a Marketing Strategy for Dumpling Snacks through Instagram Photos. The development of information technology has made Instagram social media users increasingly prolific. Photographic content is essential in delivering information or entertainment through Instagram and social media. Photo content is also often used as an advertising medium to help promote the sale of a product through Instagram, which is a crucial element in making attractive visuals that contain informative and artistic aspects. Informative product photos require selection, styling, food plating, interesting properties, and settings. The photo works created were food photography works. La-Hap Dumpling is the product to be used in this photography creation. The methods used were utilising the idea and concept of making the photographs and planning, getting into the production or photoshoot, editing, and displaying. Through usage of food photography techniques, this creation expected to produce attractive and informative visuals.
ESTETIKA FLARE DALAM FOTOGRAFI KONTEMPORER: SEBUAH PENDEKATAN FENOMENOLOGIS Mahendradewa Suminto; Syaifudin Syaifudin; Tanto Harthoko
specta Vol 10, No 1 (2026): Specta: Journal of Photography, Arts, and Media
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/specta.v10i1.17959

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai estetika flare (suar lensa) dalam praktik fotografi kontemporer melalui pendekatan fenomenologi. Dalam pandangan konvensional, flare sering diposisikan sebagai cacat optik yang harus dihindari. Namun, kajian ini menunjukkan bahwa anomali cahaya tersebut telah diadaptasi menjadi elemen visual yang sengaja dimanfaatkan untuk membangun pengalaman estetika dan makna subjektif. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan Analisis Fenomenologis Interpretatif (AFI) terhadap sumber kepustakaan serta karya fotografi kontemporer. Hasil analisis memperlihatkan bahwa flare hadir sebagai penanda kehadiran fisik manusia yang mengalami di balik penciptaan citra. Fenomena ini mengaktifkan pengalaman indrawi visual dan berfungsi sebagai penanda waktu, sehingga mampu mengembalikan sensasi murni/asli ke dalam sebuah citra. Pada tataran estetika postmodern, pemanfaatan flare mewakili praktik estetika ketidaksempurnaan (aesthetics of imperfection / aesthetic of failure) yang melawan tuntutan kesempurnaan teknis, dan kerap bertindak sebagai simulacrum dalam ekosistem digital. Selain itu, flare berperan sebagai perangkat naratif yang menandai situasi liminal untuk memicu kedalaman emosional. Temuan terpenting dari kajian ini adalah penjelasan bagaimana flare secara paradoks mampu merekonstruksi "aura" pada citra yang diproduksi secara mekanis. Sebagai kesimpulan, flare bukan sekadar sisa cacat teknis, melainkan entitas yang memperkaya wacana keilmuan fotografi, khususnya terkait cara kita memahami persepsi dan representasi medium.