Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling umum terjadi dengan tingkat morbiditas yang signifikan. Peningkatan resistensi antibiotik pada bakteri penyebab ISK menuntut evaluasi efektivitas terapi obat secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan potensi serta efektivitas antibiotik ceftriaxone dan ciprofloxacin terhadap isolat bakteri penderita ISK di Rumah Sakit Bhayangkara. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan pendekatan deskriptif menggunakan dua isolat bakteri tunggal, yaitu Proteus sp. dan Pseudomonas sp., yang diidentifikasi dari sampel urin pasien. Uji sensitivitas antibiotik dilakukan menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer sesuai dengan standar Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI). Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa kedua isolat resisten terhadap ceftriaxone, tetapi menunjukkan respons intermediate terhadap ciprofloxacin. Isolat Proteus sp. ditemukan resisten terhadap ceftriaxone (tidak terbentuk zona bening) dan berada pada kategori intermediate terhadap ciprofloxacin dengan diameter zona hambat sebesar 18,5 mm. Sementara itu, isolat Pseudomonas sp. juga resisten terhadap ceftriaxone (zona hambat 15,5 mm) dan menunjukkan kategori intermediate terhadap ciprofloxacin dengan diameter zona hambat sebesar 19 mm. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ciprofloxacin memiliki potensi hambatan yang lebih baik dibandingkan ceftriaxone terhadap isolat bakteri penyebab ISK tersebut, meskipun efektivitasnya sudah berada pada kategori intermediate. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data tambahan bagi tenaga kesehatan dalam memonitor peta resistensi lokal guna optimalisasi terapi ISK.
Copyrights © 2026