Budidaya ikan lele Sangkuriang di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda), Desa Tanjunganom, Nganjuk, menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Selama ini, para pembudidaya menghadapi tantangan serius penggunaan pestisida secara masif telah mengganggu keseimbangan mikrobiota air kolam, meruntuhkan populasi bakteri pengurai, dan pada akhirnya merenggut nyawa ikan-ikan yang seharusnya bisa tumbuh optimal. Melihat kondisi ini, tim pengabdian masyarakat hadir bukan sekadar membawa ilmu, melainkan membawa harapan yang dapat diolah dengan tangan sendiri. Solusi yang ditawarkan sederhana namun berdampak luar biasa, probiotik berbahan lokal. Dengan memanfaatkan molase dan kultur starter yang mudah dijangkau, masyarakat diajak memahami bahwa kekuatan sesungguhnya ada di sekitar mereka. Melalui rangkaian sosialisasi dan pelatihan fermentasi selama tujuh hari, para peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga membangun kepercayaan diri bahwa mereka mampu menciptakan solusi sendiri. Hasilnya berbicara nyata, Uji laboratorium membuktikan probiotik yang dihasilkan mengandung Saccharomyces cerevisiae sebanyak 4,9 × 106 CFU/mL, Lactobacillus acidophilus 9,1 × 106 CFU/mL, dan Bacillus subtilis 2,0 × 102 CFU/mL — komposisi yang ideal untuk mendukung ekosistem kolam. Ketika diaplikasikan pada pakan dengan dosis 1,5 ml/g, lele Sangkuriang tumbuh mencapai panjang 14,88 cm, berat 26,60 g, dan survival rate membanggakan sebesar 94%, dalam kondisi suhu 270C dan pH 7 yang terjaga sempurna. Lebih dari sekadar angka, keberhasilan ini mencerminkan perubahan nyata dalam cara pandang masyarakat terhadap budidaya berkelanjutan. Ketika kualitas air membaik, pencernaan ikan lebih optimal, dan daya tahan tubuh lele meningkat, para pembudidaya pun merasakan bahwa ilmu pengetahuan bisa benar-benar berpihak pada mereka. Inilah esensi pengabdian yang sesungguhnya — ilmu yang hidup, bermanfaat, dan mengakar di tengah masyarakat.
Copyrights © 2026