Peningkatan gangguan kesehatan mental menunjukkan bahwa kualitas lingkungan binaan berperan penting dalam mendukung kesejahteraan psikologis manusia. Di wilayah tropis seperti Indonesia, perancangan bangunan umumnya berfokus pada adaptasi iklim panas-lembap melalui prinsip arsitektur tropis, namun masih menitikberatkan aspek kenyamanan termal dan efisiensi energi, sementara dimensi psikologis pengguna belum terintegrasi secara komprehensif. Di sisi lain, konsep healing environment terbukti mampu menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan mental, tetapi penerapannya masih dominan pada fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka integratif antara prinsip healing environment dan arsitektur tropis dalam mendukung kesejahteraan psikologis penghuni. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dengan analisis tematik dan sintesis konseptual terhadap jurnal nasional dan internasional dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pencahayaan alami terdiffusi, ventilasi silang, vegetasi, ruang transisi, material alami, serta pengaturan zonasi ruang menenangkan berkontribusi terhadap penurunan stres, peningkatan rasa aman, dan stabilitas emosional penghuni bangunan tropis.
Copyrights © 2026